
LAMPUNG TENGAH //propamnewstv.id/— Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), M. Nurullah RS, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi jalan yang rusak parah di ruas Bandar Sari, Kecamatan Padang Ratu, hingga Payung Makmur, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah.
Kondisi jalan di sepanjang ruas tersebut dipenuhi lubang besar dan berubah menjadi kubangan berlumpur saat musim hujan. Kerusakan ini diduga kuat disebabkan oleh maraknya truk-truk besar yang melintas dengan muatan jauh melebihi batas yang diizinkan, bahkan mencapai 30 ton lebih.
“Sangat memprihatinkan. Jalan yang baru saja dibangun atau di aspal, sudah hancur kembali hanya dalam waktu hitungan bulan,” ujar M. Nurullah RS, pada Kamis (5/11/2026) saat pulang kampung halaman.
Ia mencontohkan, jalan yang baru dibangun ulang sebanyak dua kali pun mengalami nasib yang sama. Pembangunan jalan baru yang dikerjakan dengan aspal hotmix menggunakan anggaran miliaran rupiah, hanya bertahan tiga bulan dan sudah rusak parah. Aspal yang seharusnya awet bertahun-tahun kini seakan lenyap, berganti lubang-lubang besar yang menyulitkan aktivitas warga setiap harinya.
Lebih lanjut, M. Nurullah menyoroti dampak nyata yang dirasakan warga sehari-hari. Kerusakan jalan ini tidak sekadar menghambat perjalanan, tetapi juga membahayakan para pengguna jalan, baik pengendara motor maupun pengemudi kendaraan lainnya yang harus bermanuver menghindari lubang.
Selain itu, getaran akibat lewatnya truk-truk berat terus-menerus menyebabkan keretakan pada bangunan rumah warga yang berada di pinggir jalan. Saat musim kemarau tiba, kondisi jalan yang rusak membuat warga seolah “memanen debu” setiap harinya. Debu yang beterbangan tak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga menimbulkan berbagai penyakit pernapasan bagi warga, terutama anak-anak dan lansia.
Kemarahan warga memuncak karena kerusakan jalan terjadi terus-menerus selama puluhan tahun tanpa solusi tuntas. Saat ini, warga telah memasang portal penutup jalan dan melarang pihak tambang beroperasi melintas di wilayah tersebut sampai jalan diperbaiki dengan benar.
“Warga sudah tidak tahan lagi. Portal itu bukan ingin menghalangi perekonomian, melainkan bentuk protes karena aspal miliaran rupiah hilang dalam hitungan bulan serta penyebab kerusakan jalan yang parah. Ini hak warga untuk memperjuangkan lingkungan dan keselamatan mereka,” kata M. Nurullah.
M. Nurullah juga menyoroti peran pihak tambang yang dinilai hanya berfokus pada keuntungan semata tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap fasilitas umum dan infrastruktur warga sekitar.
“Pihak tambang seakan hanya mementingkan keuntungan, mengeruk hasil bumi sebanyak-banyaknya, tetapi tidak peduli jalan yang mereka lalui hancur lebur. Ini ketidakadilan bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah tersebut,” tegasnya.
Ia meminta instansi terkait untuk segera melakukan penindakan tegas terhadap kendaraan yang melintas melebihi batas muatan di ruas Bandar Sari–Payung Makmur, serta memfasilitasi pertemuan antara warga dan pihak tambang agar masalah ini segera diselesaikan secara kekeluargaan dan tuntas.
“Jalan Kabupaten dan Jalan Desa itu masuk kategori Jalan Kelas III, batas Muatan Sumbu Terberatnya hanya 8 ton. Jika truk bermuatan 30 ton terus melintas setiap hari, mau sekuat apa pun jalan dibangun, pasti akan rusak dalam waktu singkat. Mari taati aturan demi kepentingan bersama,” pungkasnya.
(Humas PWDPI)
Tim//red


