Demi Ringgit, Berakhir di Jeruji Besi” — Tangis 117 PMI di Entikong, Dari Harapan Menuju Penderitaan

- Reporter

Jumat, 17 April 2026 - 13:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KALIMANTAN BARAT //propamnewstv.id/– Impian sederhana untuk mengubah nasib justru berujung petaka. Sebanyak 117 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dipulangkan dari Serawak, Malaysia, dalam kondisi fisik lelah dan mental terguncang, setelah sempat mendekam di penjara akibat pelanggaran keimigrasian. Jumat 17/04/2026.

 

Kedatangan mereka di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, bukan hanya sekadar proses pemulangan, tetapi juga menjadi saksi bisu runtuhnya harapan ratusan anak bangsa yang nekat mengadu nasib di negeri jiran tanpa prosedur resmi. Di balik angka 117 orang, tersimpan cerita pilu yang nyaris serupa: berangkat dengan harapan, pulang dengan penyesalan.

Berangkat dengan Mimpi, Pulang dengan Luka

Mayoritas PMI ini berangkat secara nonprosedural. Iming-iming gaji besar dalam mata uang ringgit menjadi daya tarik utama. Tekanan ekonomi, kebutuhan keluarga, dan minimnya lapangan pekerjaan membuat mereka mengambil jalan pintas, meski sadar akan risiko. Namun realita di lapangan jauh dari bayangan.

Alih-alih mendapatkan pekerjaan layak, mereka justru terjaring razia aparat setempat di Malaysia karena tidak memiliki dokumen resmi. Dari situlah awal penderitaan dimulai—ditahan, diperiksa, hingga akhirnya dijebloskan ke penjara.

 

Wawancara 16 April 2026: Suara dari Balik Penderitaan

Dalam wawancara pada 16 April 2026, salah satu PMI yang tergabung dalam pekerja harian (PH) mengungkapkan kisah yang menggambarkan derita tersebut.“Kami hanya ingin cari uang, bantu keluarga. Tapi yang kami dapat malah penderitaan. Demi ringgit, kami harus masuk penjara,” ujarnya lirih.

 

Ia menceritakan bagaimana hari-hari di dalam penjara menjadi pengalaman yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.“Kami tidur berdesakan, fasilitas terbatas, makan seadanya. Yang paling berat itu jauh dari keluarga. Kami hanya bisa menyesal,” katanya.

 

Rasa takut, cemas, dan ketidakpastian menghantui mereka setiap hari. Tidak ada yang tahu kapan akan dipulangkan, sementara waktu terasa berjalan sangat lambat di balik jeruji besi.

 

Tekanan Mental dan Fisik

Selain kondisi fisik yang menurun, tekanan mental menjadi beban terberat. Banyak dari mereka mengaku stres, bahkan trauma akibat pengalaman tersebut. Beberapa PMI juga mengaku sempat kehilangan harapan. Komunikasi yang terbatas dengan keluarga di Indonesia semakin memperparah kondisi psikologis mereka.

“Kami merasa sendiri di negeri orang.

 

Tidak tahu harus mengadu ke siapa,” ungkap salah satu PMI lainnya.

 

Proses Pemulangan ke Entikong

Setelah menjalani masa penahanan, para PMI akhirnya dipulangkan melalui koordinasi antara pemerintah Indonesia dan otoritas Malaysia.

 

Proses deportasi dilakukan secara bertahap hingga mereka tiba di PLBN Entikong.

 

Setibanya di perbatasan, para PMI langsung menjalani pendataan oleh petugas, pemeriksaan kesehatan, serta pembinaan awal sebelum dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Petugas di Entikong menegaskan“ bahwa fenomena PMI nonprosedural masih menjadi persoalan serius di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.

“Kasus seperti ini terus berulang. Kami tidak bosan mengingatkan masyarakat agar berangkat secara resmi. Kalau tidak, risikonya sangat besar,” tegas seorang petugas.

 

Jerat Agen dan Faktor Ekonomi

Di balik keberangkatan ilegal ini, diduga kuat ada peran oknum atau jaringan yang menawarkan pekerjaan tanpa prosedur jelas. Mereka menjanjikan gaji tinggi dengan proses cepat, tanpa menjelaskan risiko hukum yang mengintai.

Bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi sulit, tawaran tersebut menjadi sangat menggoda.

Namun pada akhirnya, para PMI yang harus menanggung akibatnya—mulai dari penangkapan, penahanan, hingga stigma sosial saat kembali ke tanah air.-

 

(Tim Propomnewstv)

Berita Terkait

Polres Demak Dorong Pelajar Cakap dan Bijak Menggunakan AI
Polres Demak dan Lintas Sektor Perkuat Antisipasi Karhutla
Harga Terjangkau Pasar Murah di Pemurus Baru Bantu Ibu Rumah Tangga Banjarmasin
Bupati Sintang Lepas Keberangkatan 460 Prajurit Batalyon 642 Kapuas Menuju Papua
Atlet Nasional Zigi Zaresta Yuda Bimbing Atlet KATA Kuningan Jelang Kejurkab & Porprov 2026
Koperasi PWDPI dan APJI Gelar Pelatihan Jajan Pasar, Angkat Ibu Rumah Tangga dan UMKM Tingkatkan Ekonomi Keluarga  
Kadar Garam Tembus 2.119 PPM, PAM Bandarmasih Stop Total Intake Sungai Bilu
Kurun Waktu Tiga Hari, Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Lima Terduga Bandar Narkoba*
3 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:03

Polres Demak Dorong Pelajar Cakap dan Bijak Menggunakan AI

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:44

Polres Demak dan Lintas Sektor Perkuat Antisipasi Karhutla

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:41

Harga Terjangkau Pasar Murah di Pemurus Baru Bantu Ibu Rumah Tangga Banjarmasin

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:36

Bupati Sintang Lepas Keberangkatan 460 Prajurit Batalyon 642 Kapuas Menuju Papua

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:31

Atlet Nasional Zigi Zaresta Yuda Bimbing Atlet KATA Kuningan Jelang Kejurkab & Porprov 2026

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:52

Kadar Garam Tembus 2.119 PPM, PAM Bandarmasih Stop Total Intake Sungai Bilu

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:13

Kurun Waktu Tiga Hari, Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Lima Terduga Bandar Narkoba*

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:03

Disdukcapil Kuningan Gelar “Grebek IKD” ke Sekolah, Percepat Aktivasi Identitas Digital Pelajar

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x