Protes diIran berlanjut Korban Tewas Capai 554 Jiwa

- Reporter

Senin, 12 Januari 2026 - 09:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, // PropamNewstv.id – Gelombang protes yang mengguncang Iran terus berlanjut meski pemerintah memperketat penindakan aparat secara masif. Informasi terbaru menunjukkan jumlah korban tewas terus bertambah, sementara pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon membuat kondisi di lapangan semakin sulit dipantau secara menyeluruh.

Informasi mengenai situasi terkini Iran, jumlah korban dan pemblokiran internet hingga jaringan telepon, dilaporkan oleh jurnalis serta kelompok pembela hak asasi manusia (HAM). Kepada DW, aktivis Jerman-Iran Daniela Sepheri menuturkan risiko besar para warga ketika mereka melakukan aksi protes.

“Rezim sedang berjuang untuk mempertahankan kekuasaan, tapi rakyat Iran juga sedang berjuang,” kata Daniela Sepheri kepada DW

Menurutnya, situasi di lapangan sangat berbahaya, tapi tidak menyurutkan tekad para demonstran.

“Sangat berbahaya bagi orang-orang untuk keluar dan berdemonstrasi, tapi mereka tetap melakukannya. Kami menerima laporan-laporan yang mengerikan tentang pembantaian,” ujar Sepheri

Dia menambahkan, aparat keamanan secara langsung menargetkan serangan kepada para pengunjuk rasa dan bahkan mencoba “masuk ke dalam rumah sakit untuk menculik para korban yang terluka.”

Sepheri juga menyoroti sulitnya memverifikasi laporan korban tewas dan luka-luka akibat pembatasan akses informasi.

“Sangat sulit memverifikasi angka-angka yang kami terima karena pemadaman internet. Melalui Starlink, beberapa video masih memungkinkan untuk diakses. Media Iran di luar negeri coba memverifikasinya sepanjang hari,” jelasnya.

“Kami hanya bisa memperkirakan bahwa dalam dua atau tiga hari terakhir saja, mungkin sudah ada ribuan orang yang dibunuh,” lanjut Sepheri.

Menanggapi alasan di balik kerasnya penindakan terhadap aksi protes, Sepheri mengatakan bahwa “ini satu-satunya jawaban yang dimiliki rezim dan hal ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kita sudah melihat dalam protes sebelumnya, rezim hanya menjawab dengan kekerasan karena mereka tidak peduli dengan tuntutan rakyat,” paparnya.

Sepheri menilai bahwa kekerasan aparat yang sebrutal ini belum pernah dia lihat sebelumnya di Iran.

“Penindakan seperti ini adalah yang paling brutal yang pernah kami lihat,” ucap Sepheri, sambil menambahkan “secara pribadi, saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.”

“Kesenjangan antara yang kaya dan miskin sangat besar sehingga kelas menengah hampir tidak ada lagi di Iran dan semakin kaya kaum elite, semakin miskin rakyat,” papar Sepheri menjelaskan konteks sosial Iran saat ini

Korban mencapai 544 jiwa

Sementara itu, data dari para kelompok aktivis melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap protes nasional di Iran telah melonjak menjadi sedikitnya 544 orang.

Lembaga HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut lebih dari 10.600 orang telah ditahan.

Menurut HRANA, sebanyak 496 korban tewas merupakan demonstran, sementara 48 lainnya adalah anggota pasukan keamanan. HRANA memperkirakan angka tersebut masih akan bertambah.

Data yang sudah dirilis, kata HRANA, didasarkan pada laporan yang telah diverifikasi silang dari para aktivis di dalam dan luar Iran. Mereka menyebut telah menyampaikan data korban yang akurat pada gelombang kerusuhan sebelumnya. Namun, Pemerintah Iran belum merilis angka korban secara keseluruhan.

Pemerintah umumkan aksi perlawanan nasional, puji aparat sebagai ‘martir’

Pemerintah Iran pada Minggu (11/01) mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi anggota pasukan keamanan yang tewas selama dua pekan protes. Hal tersebut dilaporkan oleh televisi pemerintah.

Pihak otoritas Iran menyebut aksi-aksi tersebut sebagai “kerusuhan” dan memuji aparat yang tewas sebagai “martir” yang mereka gambarkan sebagai “pertempuran perlawanan nasional Iran” melawan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah di Teheran juga menuding para rival geopolitik melakukan intervensi dan memicu gelombang protes di dalam negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan rencana penyelenggaraan pawai yang disebut sebagai “aksi perlawanan nasional” yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/01).

Gerakan protes Iran kini punya ‘figur pemimpin’, kata jurnalis kepada DW

Nazenin Ansari, jurnalis Iran sekaligus pemimpin redaksi media Kayhan London, mengatakan kepada DW bahwa demonstrasi yang berlangsung saat ini di Iran berbeda dari gelombang protes besar sebelumnya. Alasannya, unjuk rasa saat ini memiliki figur pemimpin yang jelas, yakni putra mahkota yang hidup di pengasingan sejak keluarganya digulingkan dari kekuasaan pada revolusi Iran 1979.

“Aksi protes ini sebenarnya bukan hal baru, karena sudah dimulai sejak 2017,” kata Ansari. Dia menambahkan bahwa yang dimaksud adalah aksi-aksi yang bersifat “sangat sekuler dan tidak menggunakan narasi agama atau Islam.”

“Jadi, yang berbeda dari protes hari ini adalah bahwa gerakan ini memiliki seorang pemimpin, yaitu Pangeran Reza Pahlavi,” jelasnya.

Reza Pahlavi merupakan putra dari shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan pada 1979 dalam Revolusi Islam, yang kemudian melahirkan pemerintahan ulama di negara yang mayoritas penduduknya Muslim Syiah tersebut.

Ansari membandingkan demonstrasi saat ini dengan gelombang protes besar pada 2017 dan 2019, serta gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” pada 2022 yang dipicu oleh kematian perempuan Kurdi, Jina Mahsa Amini saat berada dalam tahanan polisi.

“Inilah yang membuat protes kali ini semakin menguat,” papar Ansari, merujuk pada sosok Reza Pahlavi sebagai pemimpin. Dia menambahkan bahwa “berbagai arus politik” di dalam oposisi kini mulai bekerja sama.

‘Keputusan di tangan rakyat Iran’

Saat ditanyakan mengenai langkah selanjutnya, aktivis Daniela Sepheri mengatakan harapannya agar rakyat Iran dapat menentukan masa depan mereka sendiri.

“Harapan saya adalah rakyat Iran bisa mengubah masa depan dan negaranya sesuai dengan kehendak mereka sendiri, melalui pemilu yang bebas dan sebuah referendum,” tegas Sepheri.

Terkait kemungkinan runtuhnya rezim pemerintahan Iran saat ini dan potensi kembalinya monarki, Sepheri menegaskan “hal tersebut adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh rakyat Iran. Ada yang ingin shah kembali, ada juga yang tidak,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa kelompok minoritas etnis pada umumnya “tidak menginginkan kembalinya shah.”

Sementara itu, putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, sebelumnya menyatakan keinginannya untuk kembali ke Iran dan memainkan peran politik.

Iran merupakan negara dengan keragaman etnis dan bahasa yang tinggi. Lebih dari 60 persen penduduknya berasal dari etnis Persia. Sementara wilayah yang dihuni minoritas Kurdi dan Baluch kerap menjadi pusat gejolak dalam berbagai gelombang protes di negara tersebut. (Red)

Berita Terkait

Polres Tabalong Gelar Arus Balik Gratis dan Valet and Ride, Mudik Aman dan Nyaman
Perubahan Misterius Susunan Redaksi, Propam News TV Akan Tempuh Jalur Hukum
𝗗𝘂𝗲𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗯𝘂𝗻, 𝗞𝗮𝗽𝗼𝗹𝘀𝗲𝗸 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗸𝗹𝘂𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗧𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗸𝗼𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘂.
Pastikan Mudik Aman dan Lancar, Kasdim Boyolali Bersama Forkopimda Cek Kesiapan Pos Pam Lebaran
Satgas Pangan Polda Kalsel Sidak ke Pasar Kuripan Menjekang Ramadhan, Temukan Sejumlah Komoditas Dijual di Atas Harga Acuan
Kapolsek Banjarmasin Tengah Terima Kunjungan Silaturahmi Apri Wilianto
Pererat Sinergitas, Polres dan Kodim 0608/Cianjur Gelar Silaturahmi serta Buka Puasa Bersama
Polres Demak Amankan Tiga Remaja Pelaku Pembacokan Saat Tawuran

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 07:04

Halalbihalal Antar Kabiro, Pererat Sinergi dan Silaturahmi

Minggu, 29 Maret 2026 - 06:04

Kapolda Jabar Tinjau Kesiapan Personel Amankan Arus Balik Pasca Operasi Ketupat Lodaya 2026

Minggu, 29 Maret 2026 - 05:13

Kebersamaan Jadi Kunci, Awirarangan Rayakan 25 Tahun Menuju Kemajuan

Minggu, 29 Maret 2026 - 04:12

Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026 Di Kabupaten Bandung Jawa Barat , Meningkat Signifikan

Minggu, 29 Maret 2026 - 04:06

Imigrasi Entikong Perketat Pemeriksaan WNI, Dugaan Cegah Calon PMI Nonprosedural ke Malaysia

Minggu, 29 Maret 2026 - 03:14

Kapolsek Entikong Bersama Forkopimcam Gelar Razia dan Penindakan PETI Ilegal

Minggu, 29 Maret 2026 - 00:36

BPH Migas Pastikan Arus Balik di Bakauheni Lancar, Pasokan BBM dan LPG Aman

Sabtu, 28 Maret 2026 - 23:40

𝗗𝗟𝗛 𝗞𝘂𝗮𝗻𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗸𝗮𝗹 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗕𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗵 𝗦𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗧𝗼𝗯𝗲𝗸 𝗣𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴.

Berita Terbaru

Uncategorized

Halalbihalal Antar Kabiro, Pererat Sinergi dan Silaturahmi

Minggu, 29 Mar 2026 - 07:04

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x