Oleh : Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA‑D., CPC., CPL
JAKARTA //propamnewstv.id/— Ketika banyak kalangan masih melihat kecerdasan buatan (AI ) hanya sebagai tren teknologi baru yang menarik, dua asosiasi pelaku teknologi nasional, yaitu APKOMINDO dan APTIKNAS, membawa pesan berbeda melalui The 8th Indonesia 4.0 Conference and Expo 2026 di Hotel Bidakara Jakarta: AI adalah alat kerja penting untuk meningkatkan daya saing industri bukan hanya simbol kemajuan.
Kegiatan dua hari (13‑14 Oktober 2026) yang mengusung tema “AI‑Powered Industry: Shaping the Future of Intelligent Enterprise” menjadi ruang pertemuan lintas‑pemangku kepentingan: pemerintah, asosiasi, pelaku industri, akademisi, hingga penyedia solusi teknologi. Bagi Ir. Soegiharto Santoso, S.H. (akrab dipanggil Hoky) yang menjabat sebagai Ketua Umum APKOMINDO sekaligus APTIKNAS, kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap teknologi sebagai tujuan akhir. “Teknologi harus memberi nilai tambah terukur, meningkatkan produktivitas, mengurangi waktu henti operasional, dan mempercepat pengambilan keputusan,” ujarnya.
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam konferensi ini adalah bahwa transformasi Industri 4.0 tidak hanya soal membeli perangkat keras dan perangkat lunak. Ada empat pilar pendukung yang sering terlupakan: persiapan sumber daya manusia, penataan ulang proses bisnis, pengelolaan data yang teratur, serta penguatan keamanan sistem digital. Tanpa keempat pilar tersebut, investasi teknologi berisiko menjadi beban, bukan keuntungan bagi perusahaan.
Dari jejak sejarah APKOMINDO ke jaringan APTIKNAS : Membangun Ekosistem TIK Nasional
APKOMINDO berdiri sejak 1991 dan menjadi cikal‑bakal perkembangan industri komputer nasional. Kemudian pada 2017 lahir APTIKNAS yang saat ini memiliki 31 Perwakilan Daerah dari Aceh hingga Papua dengan sekitar 2.000 perusahaan anggota. Jaringan ini menjadi modal utama untuk menyebarluaskan pemahaman transformasi digital hingga daerah‑daerah terluar Indonesia. APTIKNAS juga berperan dalam penyusunan Peta Jalan Nasional AI melalui wakilnya Sandy Kusuma, Wakil Ketua Umum Bidang Talenta Digital.
Penerapan AI tidak dapat dipaksakan secara seragam. Indonesia memiliki beragam tingkat kesiapan perusahaan yang diukur dengan INDI 4.0 (Indonesia Industry 4.0 Readiness Index). Menurut Hoky, setiap perusahaan perlu memilih solusi digital sesuai tingkat kesiapan masing‑masing agar dapat menyelesaikan masalah operasional nyata dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi — pelaku usaha nasional harus dapat mengintegrasikan dan mengembangkan solusi sendiri sesuai konteks pasar Indonesia.
Sinergi Hexahelix dan Koneksi Regional Asia‑Oseania
Salah satu gagasan penting yang disampaikan adalah pendekatan Hexahelix : kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, komunitas dan media. Model ini diharapkan dapat mempercepat pertukaran pengetahuan, pengembangan talenta digital, dan perluasan akses solusi teknologi. Kegiatan ini juga terhubung dengan forum internasional ASOCIO Digital & AI Summit 2026 (5‑7 Oktober 2026), tempat APTIKNAS menjadi tuan rumah bagi federasi industri TIK 25 negara Asia‑Oseania. Pada forum tersebut Agus Harimurti Yudhoyono menerima penghargaan terkait kepemimpinan infrastruktur digital regional dan Karim Taslim terpilih sebagai Wakil Ketua ASOCIO 2027‑2028.
Tidak Lupa : Keamanan Siber dan Kepastian Hukum sebagai Dasar Kepercayaan
Seiring dengan makin luasnya adopsi AI, muncul kesadaran baru bahwa inovasi tidak boleh berjalan tanpa batas tata kelola. Dari perspektif hukum, ditekankan pentingnya pelindungan data pribadi, hak kekayaan intelektual, transparansi penggunaan AI, dan kejelasan pertanggungjawaban. Keamanan siber bukan hanya masalah teknis, melainkan fondasi kepercayaan ekosistem digital. Rangkaian ini akan dilanjutkan dengan National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 pada 28‑29 Oktober 2026 di Hotel Bidakara untuk memperkuat kesadaran dan kapasitas penanganan risiko digital era kecerdasan buatan.
Penutup : Dari Kolaborasi menjadi Produktivitas dan Daya Saing
Para pimpinan APKOMINDO dan APTIKNAS menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia 4.0 tidak dinilai dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat nyata bagi produktivitas industri dan kesejahteraan nasional. Mereka berharap konferensi ini bukan hanya acara berbagi gagasan, tetapi menghasilkan langkah nyata : perluasan adopsi teknologi, peningkatan kompetensi SDM, dan penguatan kemitraan menuju Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya saing di kancah dunia.
— selesai —
Tim//red


