KUANSING, RIAU,//PropamNewsTV.id– Suasana sakral tradisi Perahu Baganduang di Kecamatan Kuantan Mudik kini menuai sorotan. Perayaan yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Lubuk Jambi dinilai mulai kehilangan makna akibat maraknya pesta petasan dan kembang api.
Tradisi yang sarat nilai budaya dan silaturahmi itu berubah wajah. Dentuman petasan, kemacetan parah di pagi hari raya, tumpukan sampah, hingga insiden luka menjadi keluhan yang kian sering terdengar dari masyarakat.
Sejumlah tokoh adat dan warga mendesak pemerintah daerah agar segera menertibkan, bahkan menghapus penggunaan petasan dan kembang api dalam perayaan tersebut. Mereka menilai, praktik itu tidak hanya merusak estetika budaya, tetapi juga membahayakan keselamatan serta bertentangan dengan nilai efisiensi dalam ajaran agama.
Fenomena penggunaan petasan berskala besar dalam beberapa tahun terakhir disebut telah menggeser esensi tradisi. Kawasan jembatan yang biasanya menjadi titik utama atraksi budaya kerap lumpuh akibat kerumunan warga yang menyalakan kembang api di badan jalan.
Selain itu, suara petasan modern dianggap menenggelamkan bunyi khas cagak atau bedil bambu—elemen tradisional yang selama ini menjadi ciri khas Perahu Baganduang.
Seorang tokoh masyarakat setempat, Arifin (54), mengungkapkan keprihatinannya.
“Perahu Baganduang itu warisan nenek moyang yang santun dan indah. Sekarang rusak oleh ledakan mercon. Selain berbahaya dan sudah memakan korban, ini juga pemborosan yang tidak perlu. Kami ingin kembali ke tradisi lama yang lebih aman,” ujarnya.
Pihak kepolisian dari Polsek Kuantan Mudik turut mengakui adanya peningkatan risiko keamanan. Laporan terkait gangguan kenyamanan hingga cedera akibat kembang api disebut meningkat, ditambah persoalan sampah yang mencemari lingkungan.
“Kami akan melakukan evaluasi dan berkoordinasi dengan panitia adat agar ke depan penggunaan kembang api bisa ditiadakan,” ujar perwakilan kepolisian.
Sebagai informasi, Perahu Baganduang merupakan tradisi menggabungkan dua hingga tiga sampan panjang yang dihias ornamen warna-warni, melambangkan nilai adat dan hasil bumi masyarakat. Secara historis, tradisi ini menjadi ajang silaturahmi besar masyarakat Kuantan Singingi saat hari raya.
Kini, harapan masyarakat sederhana: mengembalikan kemurnian tradisi. Cukup dengan cagak—bedil bambu yang lebih aman, ramah lingkungan, dan tetap menjaga marwah budaya leluhur.
Red







