Jakarta, // PropamNewstv.id -13 Februari 2026 Dewan Ekonomi Nasional (DEN) meluncurkan Website Resmi Dewan Ekonomi Nasional pada Jumat (13/2) di Kantor DEN, Jakarta Pusat. Peluncuran ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran DEN sebagai penasihat Presiden dalam merumuskan rekomendasi kebijakan ekonomi berbasis bukti dan data, sekaligus menghadirkan ruang dialog publik yang kredibel, terbuka, dan berimbang.
Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa penguatan diskursus kebijakan ekonomi yang sehat dan berbasis data menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, kebijakan ekonomi perlu disusun secara lebih tajam, berbasis data dan bukti, dengan metode analisis yang kredibel. DEN berupaya membantu mengkomunikasikan dan mengedukasi berbagai kebijakan ekonomi serta perkembangan indikator ekonomi kepada publik secara objektif,” ujar Luhut dalam sambutannya.
Dalam satu tahun terakhir, perekonomian global diwarnai ketidakpastian yang tinggi. Di tengah kondisi tersebut, Indonesia relatif mampu menjaga stabilitas makro dan pertumbuhan. Namun, dinamika ekonomi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan persepsi publik, sehingga penguatan literasi serta komunikasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan.
Website resmi DEN akan memuat kajian kebijakan strategis, analisis ekonomi terkini, serta rekomendasi berbasis data yang mengintegrasikan perspektif ekonomi, sosial, dan ekonomi politik. Platform ini diharapkan menjadi referensi bagi pemangku kepentingan, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat luas dalam memahami arah kebijakan ekonomi nasional secara komprehensif.
Peluncuran website ini turut dirangkaikan dengan diskusi kebijakan yang menghadirkan Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, serta Senior Advisor Prospera Vivi Alatas, dengan moderator Co-Founder Total Politik Budi Adiputro. Diskusi ini menjadi bagian dari upaya DEN untuk memperoleh masukan lintas perspektif dan memperkaya kualitas analisis kebijakan.
Mari Elka Pangestu menekankan bahwa respons utama menghadapi ketidakpastian global adalah diversifikasi dan penguatan resiliensi domestik melalui deregulasi serta perluasan pasar. Menurutnya, kebijakan berbasis bukti harus memiliki tujuan yang jelas dan fokus agar implementasinya terukur.
“Kita perlu memastikan program prioritas Presiden tetap berjalan, namun pada saat yang sama menyadari bahwa terdapat agenda lain yang juga membutuhkan ruang fiskal. Evaluasi berbasis data terhadap program yang sedang berlangsung penting agar alokasi anggaran lebih presisi dan berdampak,” ujarnya.
Vivi Alatas menegaskan bahwa resiliensi ekonomi bertumpu pada stabilitas makro, disiplin fiskal yang tepat sasaran, penguatan kelas menengah, serta dinamisme sektor swasta dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas. Ia menambahkan, karena tidak ada kebijakan yang dijamin berhasil sepenuhnya, setiap kebijakan harus dirancang dengan tujuan yang jelas, desain yang rasional, pendanaan yang proporsional, indikator yang terukur, serta komunikasi yang efektif sejak awal.
Sementara itu, Burhanuddin Muhtadi memaparkan dinamika persepsi publik terhadap kebijakan pemerintah. Ia menyampaikan bahwa tingkat approval terhadap Presiden mengalami kenaikan pada Januari, namun tingkat kepuasan yang sangat tinggi masih relatif terbatas, dengan mayoritas responden berada pada kategori “cukup puas”, yang berpotensi berubah seiring dinamika kebijakan dan kondisi ekonomi.
“Dalam kebijakan publik, yang paling penting adalah overdeliver dan underpromise, bukan sebaliknya. Ekspektasi publik perlu dikelola secara realistis agar kepercayaan dapat dijaga dalam jangka panjang,” ujarnya.
Ke depan, DEN akan terus memperkuat perannya sebagai think tank kebijakan strategis berbasis bukti sekaligus mitra dialog yang konstruktif dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.








