Prdam Menyikapi Wacana Pilkada Dipilih DPRD pada 2026 Antara Efisiensi dan Hak Politik Rakyat

- Reporter

Sabtu, 10 Januari 2026 - 11:54

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pandeglang, // PropamNewstv.id – Wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) oleh DPRD pada tahun 2026 kembali memicu polemik di tengah masyarakat.Sabtu (10/01/2026)

Pemerintah dan sebagian elite politik beralasan bahwa mekanisme ini lebih efisien, hemat biaya, dan dapat meminimalkan konflik horizontal.

Namun, di sisi lain, muncul penolakan keras karena dinilai sebagai kemunduran demokrasi dan pengurangan hak politik rakyat.

Muktap Sulaeman, selaku pemuda Munjul pemerhati demokrasi dan kebijakan publik, secara tegas menolak rencana tersebut. Menurutnya, efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk mencabut hak dasar warga negara dalam memilih pemimpinnya secara langsung.

“Pilkada langsung adalah hasil perjuangan panjang reformasi. Mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD sama saja dengan menarik mundur kedaulatan rakyat dan memusatkannya kembali pada elite politik,” tegas Muktap Sulaeman.

Ia menilai bahwa pemilihan oleh DPRD justru berpotensi melahirkan praktik politik transaksional yang lebih tertutup dan sulit diawasi publik. Jika alasan utama adalah biaya, maka yang seharusnya dibenahi adalah tata kelola Pilkada, bukan mekanisme demokratisnya.

“Korupsi dan politik uang bukan disebabkan oleh Pilkada langsung, tetapi oleh lemahnya penegakan hukum. Menghilangkan hak pilih rakyat bukan solusi, malah membuka ruang kompromi elite di balik meja,” lanjutnya.

Muktap juga mengingatkan bahwa kepala daerah yang dipilih langsung memiliki legitimasi yang lebih kuat karena bertanggung jawab langsung kepada rakyat, bukan kepada partai atau fraksi di DPRD.

“Pemimpin daerah seharusnya lahir dari suara rakyat, bukan dari kesepakatan segelintir orang di ruang sidang. Jika ini dipaksakan, kepercayaan publik terhadap demokrasi bisa semakin runtuh,” ujarnya.

Ia mendorong agar pemerintah dan DPR lebih mendengarkan aspirasi masyarakat luas sebelum mengambil keputusan besar yang menyangkut masa depan demokrasi lokal di Indonesia.

“Demokrasi memang mahal, tetapi ketidakadilan dan hilangnya hak politik rakyat jauh lebih mahal dampaknya bagi bangsa,” pungkas Muktap Sulaeman. pungkas (irgi)

Berita Terkait

Puncak HUT ke-53, PAM Bandarmasih Fokus Tingkatkan Pelayanan Hingga ke Ujung Jaringan
Yayasan Panata Giri Jadi Pusat Edukasi Lingkungan dan Kaderisasi Penggiat Hutan di Kabupaten Bandung
Pasar Kaget Desa Kiangroke Ramaikan Jalur Alternatif Ciherang Setiap Minggu
Pencuri perahu nelayan asal Indramayu diringkus polisi di laut Karawang
KDM Geber Proyek Jalan Dan Lampu Penerangan Jalan Se-Jawa Barat,Mudik Aman Lancar
TTKKBI DPW II Kabupaten Tangerang Gelar Zikir Bersama dan Penutupan Sementara Latihan Pencak Silat Jelang Ramadhan
Beautifikasi Jelang Ramadan, Dinsos Kota Bandung Jangkau 79 PPKS
Bangsawan Expo Perkuat Perlindungan Kesehatan Hewan dan Warga

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 05:46

Puncak HUT ke-53, PAM Bandarmasih Fokus Tingkatkan Pelayanan Hingga ke Ujung Jaringan

Minggu, 15 Februari 2026 - 05:35

Yayasan Panata Giri Jadi Pusat Edukasi Lingkungan dan Kaderisasi Penggiat Hutan di Kabupaten Bandung

Minggu, 15 Februari 2026 - 05:29

Pasar Kaget Desa Kiangroke Ramaikan Jalur Alternatif Ciherang Setiap Minggu

Minggu, 15 Februari 2026 - 04:45

Pencuri perahu nelayan asal Indramayu diringkus polisi di laut Karawang

Minggu, 15 Februari 2026 - 04:40

KDM Geber Proyek Jalan Dan Lampu Penerangan Jalan Se-Jawa Barat,Mudik Aman Lancar

Minggu, 15 Februari 2026 - 02:23

Beautifikasi Jelang Ramadan, Dinsos Kota Bandung Jangkau 79 PPKS

Minggu, 15 Februari 2026 - 02:18

Bangsawan Expo Perkuat Perlindungan Kesehatan Hewan dan Warga

Minggu, 15 Februari 2026 - 02:13

Bangun 4.106 Titik PJU dan 2.100 Rutilahu, Pemkot Bandung Perbaiki 29,52 Km Jalan

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x