Foto: Arus perlintasan Indonesia-Malaysia padat di momentum perayaan Hari Gawai Dayak.
KALBAR //propamnewstv.id/– Perayaan Hari Gawai Dayak yang jatuh pada 1 Juni 2026 kembali menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia. Sejak beberapa hari terakhir, arus pelintas dari wilayah Entikong menuju Tebedu, Sarawak, Malaysia, terlihat meningkat seiring tradisi tahunan masyarakat yang mengunjungi sanak keluarga untuk merayakan Gawai bersama.
Bagi warga perbatasan, perjalanan ke Tebedu saat Hari Gawai bukan sekadar kunjungan biasa. Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan di kedua sisi perbatasan.
Salah seorang warga Sontas Kecamatan Entikong yang hendak melintas ke Sarawak mengatakan bahwa kebiasaan mengunjungi keluarga saat Hari Gawai telah diwariskan oleh para leluhur sejak lama.

“Ini sudah menjadi tradisi keluarga kami sejak dulu. Setiap Gawai kami datang ke Tebedu untuk berkumpul bersama keluarga. Walaupun dipisahkan oleh batas negara, hubungan persaudaraan tetap erat,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan memiliki hubungan keluarga dengan warga yang berada di Sarawak. Karena itu, perayaan Gawai selalu menjadi momen yang dinantikan untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan kekeluargaan.
Pantauan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong menunjukkan aktivitas pelintasan yang lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa. Warga melintas dengan berjalan kaki ramai-ramai sesampai di garis Netral sudah ada sanak family nya yang dari Tebedu Malaysia sudah menunggu untuk di jemput dibawa ke kampung Tebedu dan ada juga yang memakai kendaraan pribadi untuk menuju Kampung Tebedu dan beberapa daerah lain di Sarawak.
Sebelum melintas, para pelintas menjalani pemeriksaan identitas di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Entikong. Petugas melakukan pendataan terhadap warga yang akan menghadiri perayaan Gawai guna memastikan seluruh proses pelintasan berjalan tertib dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Salah seorang petugas yang bertugas di kawasan perbatasan menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari pelayanan dan pengawasan terhadap meningkatnya arus pelintas menjelang Hari Gawai.
“Kami melakukan pemeriksaan identitas dan pendataan terhadap masyarakat yang akan melintas. Tujuannya untuk memastikan proses perjalanan berlangsung aman, tertib, dan sesuai prosedur,” katanya.
Hari Gawai merupakan salah satu perayaan adat terbesar masyarakat Dayak di Sarawak yang dirayakan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur serta momentum mempererat hubungan keluarga dan komunitas. Di kawasan perbatasan Entikong-Tebedu, perayaan ini memiliki makna yang lebih luas karena menjadi simbol kuatnya hubungan sosial dan budaya yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Meski dipisahkan oleh batas administrasi negara, masyarakat di Entikong dan Tebedu tetap menjaga hubungan kekeluargaan yang erat. Tradisi saling mengunjungi saat Hari Gawai menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan, budaya, dan sejarah bersama masih terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan meningkatnya arus pelintas menjelang Hari Gawai 2026, masyarakat berharap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini tetap terjaga sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Tim//red


