Foto: proses pemotongan hewan kurban.
JABAR //propamnewstv.id/ — Idul Adha 1447 Hijriah kembali datang membawa pertanyaan yang diam-diam menampar banyak orang: masih adakah keikhlasan tersisa di tengah zaman yang makin sibuk mengejar kepentingan pribadi?
Jawabannya mungkin bisa ditemukan di RT 02 RW 11 Komplek Baranangsiang Indah, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay.
Di tempat yang jauh dari hingar-bingar panggung kekuasaan dan sorotan kamera elite, warga justru memperlihatkan arti pengorbanan yang sesungguhnya lewat penyembelihan 3 ekor sapi dan 6 ekor kambing pada Rabu (27/5/2026).
Tidak ada konferensi pers. Tidak ada drama pencitraan. Tidak ada janji manis berbungkus slogan.

Yang ada hanyalah warga biasa yang percaya bahwa rezeki tidak akan berkurang karena dibagikan.

Hadir dalam kegiatan tersebut tokoh DKM Masjid Al Mubarokah H. Mursidi, panitia kurban, Ketua RW 11 yang diwakili Sely, Ketua RT 02, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang sejak pagi larut dalam suasana gotong royong dan kebersamaan.
Ironis memang.
Di saat sebagian orang sibuk memamerkan jabatan, kendaraan, dan kemewahan hidup di media sosial, masyarakat kecil di sudut Ciparay justru diam-diam mengajarkan arti kemanusiaan tanpa perlu tepuk tangan.
Idul Adha kali ini terasa seperti sindiran halus bagi zaman yang mulai kehilangan rasa peduli.
Sebab kurban sejatinya bukan hanya soal menyembelih hewan, melainkan tentang menyembelih kesombongan, ego, dan kerakusan yang makin dipelihara dalam kehidupan modern.
Asap pembakaran sate bercampur dengan gema takbir dan tawa warga menjadi pemandangan yang sederhana, tetapi terasa jauh lebih hangat dibanding pidato-pidato panjang tentang kepedulian sosial.
Di bawah langit Ciparay, warga Baranangsiang Indah membuktikan satu hal:
Kadang yang membuat dunia tetap waras bukan pidato para petinggi, melainkan ketulusan orang-orang kecil yang masih mau berbagi di tengah hidup yang makin keras.
Kaperwil : Saepulloh
//red


