Pandeglang, // PropamNewstv.id – Indonesia Contra Terror (ICT) memandang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program bagi-bagi makanan, Tapi peluang besar membangun ekosistem ekonomi masyarakat petani, Peternak dan UMKM bisa tumbuh bersama jika dikelola dengan benar.
Bagi masyarakat seharusnya MBG adalah pintu masuk Hasil panen dan produksi lebih pasti terserap, Usaha lebih terarah dan berkelanjutan, Ekonomi lokal bergerak, Dampaknya bukan cuma ekonomi tapi juga penguatan sosial. Ucap Sapta Jumat,20/02/2026
Lanjut Sapta, Namun ICT juga menyoroti agar MBG benar-benar jadi kekuatan bersama ada 3 hal krusial yang harus disesuaikan dengan standar program yang pertama Kualitas karena ini menyangkut kepentingan publik standar mutu kebersihan dan konsistensi tidak bisa ditawar Ini bukan mempersulit rakyat, tapi tanggung jawab ke kesehatan masyarakat.
Harga harus adil dan disepakati sejak awal bukan diperdebatkan setelah panen.
Masyarakat butuh kepastian hitung biaya dan untung, pengelola MBG butuh kepastian kelola anggaran.
Kalau tidak disepakati di depan biasanya masalahnya muncul di belakang.
Ketepatan Waktu MBG berjalan dengan ritme dan target yang ketat Pasokan harus tepat waktu dan konsisten, Karena keterlambatan satu titik bisa ganggu seluruh rantai layanan.
ICT menilai kuncinya ada pada penyesuaian dua arah Masyarakat perlu naik kelas dalam standar dan manajemen produksi Pengelola MBG perlu pembinaan, Komunikasi yang jelas dan kesepakatan teknis sejak awal.
Kalau ini dijalankan MBG tidak hanya sukses sebagai program makan, tapi bisa jadi mesin penggerak ekonomi rakyat sekaligus penguat ketahanan sosial. Tuturnya
Sapta Juga Menambahkan, Petani lebih pasti serap panen
Peternak lebih terarah produksi UMKM naik kelas masuk rantai pasok yang lebih rapi dan profesional.
Bagi ICT MBG harus dilihat sebagai jembatan antara negara dan rakyat untuk membangun kemandirian pangan dan kekuatan sosial-ekonomi dari bawah, bukan sekadar proyek jangka pendek. Pungkasnya (IRGI)








