Gaza // PropamNewstv.id – Di tengah keramaian pasar Kota Gaza, seorang tukang reparasi uang dengan saksama memeriksa selembar uang kertas 100 shekel (Rp513.000) yang sudah usang dan berwarna kuning.
Ia meluruskannya dan memperindah warnanya yang pudar dengan goresan pensil secara hati-hati.
Baraa Abu al-Aoun seharusnya kuliah di universitas, tetapi ia sekarang mencari nafkah mereparasi uang rusak di lapak yang ia dirikan di pinggir jalan.
Memperbaiki uang kertas adalah bisnis baru yang berkembang pesat di Gaza.
Sejak serangan mematikan pada 2023, Israel menghentikan transfer uang kertas dan kebutuhan pokok lainnya ke Gaza.
Sebagian besar bank hancur akibat gempuran Israel.
Meskipun beberapa cabang bank telah dibuka kembali sejak gencatan senjata beberapa waktu lalu, masih belum ada ATM yang berfungsi.
Meski demikian, orang-orang masih memerlukan uang tunai untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok.
Kondisi ini menyebabkan setiap uang kertas menjadi lebih penting dari sebelumnya tidak peduli seberapa lusuhnya. (Red)








