Pandeglang // PropamNews.tv — Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia setelah hujan deras mengguyur selama beberapa hari terakhir. Di Kabupaten Pandeglang, Banten, ribuan rumah warga terendam, aktivitas masyarakat lumpuh, dan kerugian material terus bertambah. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga memunculkan refleksi mendalam mengenai relasi manusia dengan alam.
Sejumlah pengamat lingkungan menilai banjir yang kian sering terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem. Alih fungsi lahan, penggundulan hutan, penimbunan daerah resapan air, serta pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem disebut sebagai faktor utama meningkatnya intensitas dan luas genangan banjir. Kepentingan ekonomi dan politik dinilai kerap mengesampingkan aspek kelestarian lingkungan, sehingga alam menjadi korban dari pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Dalam perspektif keagamaan, khususnya Islam, manusia telah diingatkan agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri, sebagai peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar, sebagaimana tertuang dalam QS. Ar-Rum ayat 41.
Ayat tersebut dipahami sebagai peringatan moral bahwa bencana dapat menjadi cermin perilaku manusia yang melampaui batas. Keserakahan dalam mengeksploitasi sumber daya alam tanpa tanggung jawab dinilai bertentangan dengan peran manusia sebagai khalifah di bumi, yang memiliki amanah untuk menjaga dan memelihara alam, bukan merusaknya.
Para ulama dan akademisi menekankan bahwa bencana banjir harus dijadikan momentum introspeksi bersama, baik oleh pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat. Kebijakan pembangunan yang adil dan ramah lingkungan dipandang bukan hanya sebagai tuntutan zaman, tetapi juga sebagai amanah moral dan spiritual yang harus ditegakkan secara konsisten.
Peringatan serupa juga ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui QS. Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Pesan ini dinilai semakin relevan dengan kondisi saat ini, ketika kerusakan lingkungan kian nyata dan berdampak langsung pada kehidupan manusia.
Banjir yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan luapan air, melainkan peringatan keras agar manusia kembali menata hubungan dengan alam secara bijaksana. Tanpa perubahan sikap dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan, bencana serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan meninggalkan kerusakan yang semakin sulit dipulihkan. (Red)








