Foto:Gambar Ilustrasi
BANTEN //propamnewstv.id/ –jumat 17 juli 2026 Masyarakat kp sawah RT 001 / RW 004 ,desa pagelaran kecamatan pagelaran,diguncang kekecewaan yang mendalam. Sosok yang seharusnya menjadi teladan menjaga nilai kesucian, keteguhan rumah tangga, dan norma agama, justru berbalik menjadi perusak kehormatan dan kehancuran keluarga orang lain. Seorang pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) berinisial ( KS )yang seharusnya menjaga amanah tempat ibadah, kini menjadi aktor utama dalam perpecahan rumah tangga warga, dengan merebut istri sah orang yang telah mempercayainya.
Apa yang lebih menyakitkan? Ketika orang yang kita anggap bisa menjaga rahasia, memberi nasihat, dan menjadi cerminan kebaikan, justru menusuk dari belakang. Posisi di masjid bukanlah tameng untuk menutupi perbuatan tercela, melainkan beban amanah yang menuntut tanggung jawab moral berkali-kali lipat lebih besar dibanding masyarakat biasa.
Tindakan ini bukan sekadar urusan rumah tangga biasa. Ini adalah pelanggaran terhadap kepercayaan umat, pengkhianatan terhadap janji suci pernikahan, dan penghinaan terhadap lembaga masjid yang seharusnya menjadi benteng moral masyarakat. Ketika seseorang yang memegang peran di tempat ibadah justru merusak rumah tangga orang lain, ia tak hanya merusak kehidupan pasangan yang bersangkutan, tapi juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin agama di lingkungannya.
Korban yang ditinggalkan tak hanya kehilangan pasangan hidup, tapi juga merasakan betapa pahitnya dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung nilai agama. Anak-anak menjadi korban tak berdosa yang harus tumbuh dalam keluarga yang hancur, sementara pelaku berusaha menutupi aibnya di balik status pengurus masjid yang ia sandang.
Kita tidak menuduh sembarangan, namun fakta yang terungkap di lapangan menjadi tamparan keras bagi kita semua: Jabatan dan posisi di lembaga agama tidak menjamin keluhuran budi pekerti. Kepercayaan yang diberikan masyarakat harus dijaga dengan kesungguhan hati, bukan disalahgunakan untuk memuaskan hawa nafsu yang merugikan orang lain.
Kepada pihak yang bersangkutan, jangan sembunyikan perbuatan di balik jubah amanah yang sudah kamu nodai. Akui kesalahan, pertanggungjawabkan dampak yang telah kau timbulkan, dan kembalilah pada jalan yang benar. Jangan biarkan aib pribadimu semakin menggores citra masjid dan merusak kepercayaan umat yang menaruh harapan padamu.
Masyarakat berhak tahu bahwa amanah yang diemban tidak boleh menjadi alat untuk menutupi kejahatan moral. Dan kita semua harus belajar, untuk tidak hanya melihat jabatan yang disandang seseorang, tapi juga melihat apakah ia benar-benar hidup sesuai dengan ajaran yang ia ajarkan.
Tim/red


