
JABAR //propamnewstv.id/— Bojong Nangka, Cikuda -Gunung Putri, 28 Oktober 2026 – Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 dimaknai Relawan Perempuan dan Anak (RPA) Indonesia melalui aksi nyata bersama anak-anak di Desa Bojong Nangka, Cikuda, Gunung Putri. Ketua Umum RPA Indonesia, Jeannie Latumahina, bersama jajaran DPP, yakni Paulus Tutuarima, Yusuf Pradika, Desi Balubun, Ida Sapulette, Zidane, Martha, Asrianti, Marnih, Tiwul, Yeyen, dan Anisa, hadir berbagi kebahagiaan sekaligus memberikan tas, buku, dan perlengkapan sekolah kepada anak-anak. Bantuan tersebut merupakan partisipasi Bapak Chandra Purwo Negoro dari Direktorat Organisasi Kemasyarakatan, Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri.
Kehadiran RPA Indonesia disambut penuh kegembiraan. Bahkan, sejak siang hari anak-anak telah menantikan kedatangan rombongan RPA Indonesia. Senyum dan antusiasme mereka menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pengurus yang hadir. Bagi RPA Indonesia, pemberian tas dan perlengkapan sekolah bukan sekadar bantuan, melainkan simbol kepedulian, penyemangat belajar, serta pesan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih cita-cita.
Di desa ini, RPA Indonesia juga menjalankan kelompok belajar gratis secara rutin setiap hari pukul 16.00–20.00 WIB. Kegiatan didampingi Anisa, perwakilan DPP RPA Indonesia, yang mengajarkan Matematika dan Bahasa Inggris serta menghadirkan guru mengaji untuk pendidikan keagamaan. Jeannie menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat setempat bekerja sebagai buruh dan pengemudi ojek. Karena itu, RPA ingin menghadirkan kegiatan positif agar anak-anak memiliki pendampingan dan kesempatan belajar setelah pulang sekolah. “Kami ingin anak-anak mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, memperoleh pendidikan, dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik,” tegas Jeannie.
Jeannie dan seluruh jajaran DPP RPA Indonesia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Chandra Purwo Negoro atas kepedulian dan partisipasinya dalam memberikan perlengkapan sekolah bagi anak-anak. Menurut Jeannie, setiap tas yang diberikan membawa pesan semangat, setiap buku membuka jendela pengetahuan, dan setiap perlengkapan sekolah menjadi dorongan agar anak-anak tidak pernah berhenti belajar. Jeannie menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Senada dengan Ketua Umum, Ida Sapulette, Desi Balubun, Asrianti, dan Marnih menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui persatuan dan kepedulian terhadap sesama. Mencintai Indonesia berarti juga mencintai, menjaga, dan melindungi anak-anaknya. Sementara itu, Paulus Tutuarima serta Zidane menekankan pentingnya memberikan perhatian dan kesempatan kepada generasi muda agar tumbuh menjadi generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan memiliki semangat kebangsaan.
Yusuf Pradika, yang juga memandu acara sebagai pembawa acara (MC), menyampaikan bahwa membangun Indonesia tidak cukup hanya melalui kata-kata dan seremoni. Seluruh elemen masyarakat perlu mengambil bagian dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Semangat Sumpah Pemuda harus hidup melalui tindakan nyata, termasuk mendampingi anak-anak belajar, menanamkan nilai kebaikan, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang.
Menutup kegiatan tersebut, Jeannie Latumahina menegaskan bahwa pengabdian tidak harus selalu dimulai dari tempat besar atau kegiatan yang megah. “Dari desa, dari kaki Gunung Putri, RPA Indonesia ingin memulai sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki makna besar. Kami percaya, membangun Indonesia dapat dimulai dengan mendampingi anak-anak belajar, menanamkan nilai kebaikan, dan memberikan harapan.
Dari anak-anak inilah masa depan Indonesia kita titipkan. Inilah makna Sumpah Pemuda yang sesungguhnya, persatuan yang diwujudkan melalui kepedulian dan pengabdian,” tutup Jeannie.
RPA Indonesia percaya, sebuah tas mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang anak, di dalamnya tersimpan semangat, harapan, dan mimpi tentang masa depan. Karena membangun bangsa bukan hanya tentang mewariskan sejarah perjuangan, melainkan juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari masa depan Indonesia.
Reporter: Johan Sopaheluwakan
//red


