Dibungkus Kresek, Program MBG Dapur SPPG Surianeun di Ciawi Patia Picu Kekecewaan Penerima Manfaat

- Reporter

Senin, 20 April 2026 - 07:05

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

                   Foto: MBG program pemerintah di kemas plastik

BANTEN  //propamnewstv.id/– Kekecewaan sejumlah penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Ciawi belakangan ini seharusnya tidak dipandang sebagai keluhan sepele. Ia adalah gejala dari persoalan yang lebih mendasar: lemahnya standar pelayanan publik dalam program yang justru menyasar kebutuhan paling esensial warga—pangan yang layak dan bermartabat, Senin (20/04/2026).

 

Keluhan itu mencuat setelah makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat dilaporkan dikemas menggunakan plastik kresek. Praktik ini segera memantik kritik, tidak hanya karena aspek estetika dan kenyamanan, tetapi juga menyangkut isu kesehatan, kelayakan konsumsi, serta penghormatan terhadap penerima program.

MK, salah seorang penerima manfaat yang meminta identitasnya disamarkan, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pengelolaan dapur MBG yang berada di bawah SPPG Surianeun. Ia menilai penggunaan plastik kresek sebagai wadah makanan mencerminkan rendahnya standar operasional sekaligus kurangnya sensitivitas terhadap penerima manfaat.

 

“Ini bukan sekadar soal kemasan, tetapi soal penghargaan terhadap kami sebagai penerima program. Makanan yang seharusnya menyehatkan justru dikemas dengan cara yang tidak layak,” ujarnya.

 

 

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Dalam konteks kesehatan, penggunaan plastik kresek—yang umumnya tidak dirancang untuk kontak langsung dengan makanan panas—berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi zat kimia. Lebih jauh, praktik ini juga bertentangan dengan semangat program MBG yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

 

Kritik yang lebih keras datang dari Tobi, Presidium Aktivis AKSI. Ia mengecam keras pengelolaan dapur MBG yang dinilai abai terhadap standar pelayanan dasar. Menurutnya, persoalan ini tidak bisa dianggap sebagai kesalahan teknis semata, melainkan mencerminkan lemahnya pengawasan dan akuntabilitas.

 

“Program sebesar MBG seharusnya dijalankan dengan standar tinggi. Jika hal mendasar seperti kemasan saja diabaikan, bagaimana publik bisa percaya pada kualitas keseluruhan program?” tegasnya.

 

Tobi juga mendesak adanya pertanggungjawaban dari pihak dapur SPPG Surianeun, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi dan pengawasan. Ia menekankan bahwa program sosial bukan sekadar soal penyaluran bantuan, tetapi juga tentang menjaga martabat penerima.

 

Dalam perspektif yang lebih luas, kasus ini menyingkap paradoks klasik dalam kebijakan publik di Indonesia: antara ambisi program dan realitas implementasi. Program MBG, yang digagas sebagai solusi atas persoalan gizi, justru berisiko kehilangan legitimasi jika pelaksanaannya tidak memenuhi standar minimum kelayakan.

 

Pemerintah daerah dan pihak terkait semestinya tidak menunggu eskalasi kritik untuk bertindak. Evaluasi menyeluruh, transparansi pengelolaan, serta penegakan standar operasional harus segera dilakukan. Lebih dari itu, perlu ada mekanisme pengaduan yang responsif agar suara penerima manfaat tidak terpinggirkan.

 

Pada akhirnya, kualitas sebuah program sosial tidak hanya diukur dari seberapa luas jangkauannya, tetapi juga dari bagaimana ia dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan penghormatan terhadap manusia. Dalam hal ini, kritik dari Desa Ciawi adalah pengingat penting: bahwa keadilan sosial dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana, termasuk cara sebuah makanan disajikan. hingga berita ini di publikasikan belum adanya klarifikasi dari pihak terkait

 

catatan redaksi : redaksi membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi sesuai kode etik jurnalistik sesuai undang undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers

 

Tim(Red)

Berita Terkait

Polres Demak Dorong Pelajar Cakap dan Bijak Menggunakan AI
Polres Demak dan Lintas Sektor Perkuat Antisipasi Karhutla
Harga Terjangkau Pasar Murah di Pemurus Baru Bantu Ibu Rumah Tangga Banjarmasin
Bupati Sintang Lepas Keberangkatan 460 Prajurit Batalyon 642 Kapuas Menuju Papua
Atlet Nasional Zigi Zaresta Yuda Bimbing Atlet KATA Kuningan Jelang Kejurkab & Porprov 2026
Koperasi PWDPI dan APJI Gelar Pelatihan Jajan Pasar, Angkat Ibu Rumah Tangga dan UMKM Tingkatkan Ekonomi Keluarga  
Kadar Garam Tembus 2.119 PPM, PAM Bandarmasih Stop Total Intake Sungai Bilu
Kurun Waktu Tiga Hari, Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Lima Terduga Bandar Narkoba*
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:03

Polres Demak Dorong Pelajar Cakap dan Bijak Menggunakan AI

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:44

Polres Demak dan Lintas Sektor Perkuat Antisipasi Karhutla

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:41

Harga Terjangkau Pasar Murah di Pemurus Baru Bantu Ibu Rumah Tangga Banjarmasin

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:36

Bupati Sintang Lepas Keberangkatan 460 Prajurit Batalyon 642 Kapuas Menuju Papua

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:31

Atlet Nasional Zigi Zaresta Yuda Bimbing Atlet KATA Kuningan Jelang Kejurkab & Porprov 2026

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:52

Kadar Garam Tembus 2.119 PPM, PAM Bandarmasih Stop Total Intake Sungai Bilu

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:13

Kurun Waktu Tiga Hari, Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Lima Terduga Bandar Narkoba*

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:03

Disdukcapil Kuningan Gelar “Grebek IKD” ke Sekolah, Percepat Aktivasi Identitas Digital Pelajar

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x