Effendy, Ikhtiar Membangun Intelektual Organik

- Reporter

Senin, 16 Februari 2026 - 01:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rumah Sungai Alam Andai, // PropamNewstv.id -Sudah lebih 100 hari Dr. Muhammad Effendy, berpulang. Namun mengikuti suasana dialog Forum Ambin Demokrasi, rasanya beliau masih ada di tengah kami. Sebab, biasanya beliau lah yang menggagas, mencetus ide dan gagasan, terutama terkait isu-isu demokrasi, hukum dan pemerintahan. Bahkan Forum Ambin Demokrasi ini, beliau yang menggagas, karena merasa admosfir “kampus”, kurang begitu terbuka dalam melakukan gerakan atau menggulirkan gagasan guna menyahuti berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, kata Noorhalis Majid, selaku moderator pada dialog bertajuk “Mengenang Dr. Muhammad Effendy; Membangun Intelektual Organik dan Keberlanjutan Antar Generasi”, Minggu, 15 Februari 2026, di Rumah Alam Sungai Andai.

Hadir menjadi narasumber, Setia Budhi, (Ademisi Fisip ULM), Erich Kaunang (Prodi Inter-religous studies. Sekolah Pascasarjana UGM). Calvin Nathan Wijaya (Peneliti Sosial, Alumni Universitas Indonesia dan The Universitas Melbourne, Bidang Kebijakan dan Manajemen Publik).

Sejak tahun 90-an, Muhammad Effendy aktif dalam berbagai forum diskusi. Walau tidak tertarik untuk terjun dalam politik dan pemerintahan, namun dalam isu-isu menyangkut politik, pemerintahan, demokrasi dan hukum tata negara, dia selalu menjadi narasumber utama. Pengetahuan yang dimilikinya selaku akademisi, tidak hanya diberikan di ruang-ruang kuliah, namun di berbagai forum, sehingga pendapatnya menjadi rujukan, kata Setia Budhi.

Sementara itu Erich Kaunang, selaku peneliti IRS UGM, menegaskan bahwa akademisi dan intelektual, mestinya memang menjadi bagian dari berbagai problem di masyarakat. Merujuk pendapat Antonio Gramsci, bahwa intelektual organik, adalah pemikir yang lahir, tumbuh dan terikat langsung dengan kelompok sosial atau kelas tertentu, entah itu buruh, petani, aktivis, guna merumuskan ideologi dalam membangun kesadaran, menciptakan hegemoni budaya guna melawan dominasi penguasa. Berbeda dengan intelektual tradisional yang netral, intelektual organik berperan aktif membawa perubahan sosial, sesuai bahasa yang dipahami masyarakat. Muhammad Effendy, pasti melakukan hal tersebut melalui pikiran, ucapan dan tulisan-tulisannya.

Calvin Nathan Wijaya, memaparkan sejumlah kegiatan yang selama ini ia geluti bersama kelompok masyarakat marjinal, terutama para pemulung, manusia silver dan gelandangan, termasuk masyarakat korban bencana ekologi di Sumatera. Dalam pendampingan lapangan bersama kelompok masyarakat, ia merasa pengetahuan yang dimiliki selaku intelektual atau akademisi, sering kali berjarak dengan problem-problem yang digeluti masyarakat. Terkadang, justru akademisi dan intelektual itu sendiri yang banyak belajar kepada masyarakat. Karenanya, intelektual organik itu adalah orang yang mau mendegarkan, bukan orang yang hanya ingin berbicara dan menyampaikan.

Turut hadir dalam diskusi sore itu sejumlah tokoh, akademisi dan sejumlah anak muda, antara lain Dr. Fahriannor, IBG Dharma Putra, Winardi Sethiono, Berry Nahdian Furqon, Nanik Hayati, Ida Adul, Ikhsan el Haq, Abdani Sholihin, Soraya, Arif Rahman Hakim, Kisworo, Halimun Hakim, dan beberapa mahasiswa.

Kalau pengetahuan difungsikan untuk melakukan pecerahan dan perubahan, itulah intelektual organik. Muhammad Effendy sepanjang hidupnya bukan hanya sebagai akademisi yang mengajar, tapi turut menjadi bagian dinamika masyarakat di Kalimantan Selatan. Di kampus, berbagai idealisme sering kali terhambat oleh birokrasi. Effendy membangunnya dari luar kampus, sehingga dapat menyikapi berbagai persoalan, tanpa takut terhalang rumitnya birokrasi, kata Dr. Fahriannor, akademisi FISIP ULM.

Bagi saya, Muhammad Effendy bukan intelektual organik sebagaimana yang digambarkan Gramsci. Beliau tidak berada di barisan depan para petani, masyarakat adat, atau kelompok kaum marjinal. Beliau lebih tepatnya sebagai jembatan penghubung antara kelompok warga yang tertindas dengan para pengambil kebijakan. Dengan ilmu pengetahuan dan pengaruhnya, beliau memberikan masukan, kritik dan koreksi, atas berbagai kebijakan yang menindas masyarakat, katas Berry Nahdian Furqon.

Intelektual organik itu orang yang tidak hanya bergelut dan berbicara tentang dirinya, keluarganya atau kelompoknya. Namun orang yang mengabdikan pengetahuan dan ilmu yang dimiliki untuk semua orang yang tak terhingga. Muhammad Effendy melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Sulit mencari akademisi seperti itu. Effendy, selalu mengunakan pengetahuannya dalam membangun kemaslahatan umum, kata IBG Dharma Putra.

Tantangan kedepan, bagaimana intelektual organik dapat berperan di tengah era 5.0, di antara algoritma yang sering kali belum tentu benar. Sebab itu, diperlukan pemikiran dan langkah strategis, sehingga berbagai perubahan, dapat disikapi dengan bijak, kata Ikhsan el Haq

Kami berdiskusi berbagai hal dengan beliau, dia selalu gelisah apabila ada kebijakan atau isu-isu yang dirasa kurang sesuai. Dengan pengetahuan yang dimiliki, dia memberikan masukan dan pemikiran. Tidak hanya berdiam diri, tapi mendorong satu gerakan yang bertujuan untuk perubahan, kata Winardi Setiono, mengenang teman akrabnya Dr. Muhammad Effendy. (nm)

Berita Terkait

Polres Tabalong Gelar Arus Balik Gratis dan Valet and Ride, Mudik Aman dan Nyaman
Perubahan Misterius Susunan Redaksi, Propam News TV Akan Tempuh Jalur Hukum
𝗗𝘂𝗲𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗯𝘂𝗻, 𝗞𝗮𝗽𝗼𝗹𝘀𝗲𝗸 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗸𝗹𝘂𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗧𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗸𝗼𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘂.
Satgas Pangan Polda Kalsel Sidak ke Pasar Kuripan Menjekang Ramadhan, Temukan Sejumlah Komoditas Dijual di Atas Harga Acuan
Kapolsek Banjarmasin Tengah Terima Kunjungan Silaturahmi Apri Wilianto
Polres Demak Amankan Tiga Remaja Pelaku Pembacokan Saat Tawuran
𝗥𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗣𝗘𝗧𝗜 𝗞𝗲𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗞𝘂𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗹𝗶𝗿 𝗦𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴, 𝗜𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝗹 ‘𝗔’ 𝗱𝗮𝗻 ‘𝗥’ 𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗼𝗼𝗿𝗱𝗶𝗻𝗮𝘁𝗼𝗿 𝗦𝗲𝘁𝗼𝗿𝗮𝗻.
Pelantikan Pengurus BEM UNUKASE Periode 2025/2026

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 13:40

Heboh Keluhan Menu MBG, SPPG Cikedal–Cening 3 Babakanlor Jadi Sorotan

Minggu, 5 April 2026 - 11:58

Kapolda Sumsel Tinjau Pengamanan Rangkaian Ibadah Paskah 2026 di Gereja Santo Yoseph Palembang      

Minggu, 5 April 2026 - 11:28

Satreskrim Polsek Curug Berhasil Amankan Pelaku Penipuan dan Penggelapan Sepeda Motor

Minggu, 5 April 2026 - 11:23

Menu MBG Sempat Viral di Medsos, Ini Penjelasan SPPG Cibitung Manglid di Pandeglang

Minggu, 5 April 2026 - 10:06

Pemkab Sintang Apresiasi Peranan Universitas Terbuka Tingkatkan SDM di Kabupaten Sintang

Minggu, 5 April 2026 - 08:57

Bupati Kuningan Ajak Perkuat Kebersamaan di Halalbihalal MKKS SMP

Minggu, 5 April 2026 - 08:43

Polres Cianjur Tertibkan Knalpot Brong, Master Limbad Sampaikan Pesan Moral

Minggu, 5 April 2026 - 08:40

Polres Cianjur Gelar Nobar Semen Padang VS Persib Bandung

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x