BANDUNG // propamnewstv.id – Diera kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saat ini dalam ” ASTA CITA ” nya salah satunya adalah swasembada pangan. Berbicara tentang pangan pastinya hal ini akan melibatkan para petani yang merupakan sebagai produsen tanaman pangan dibidangnya masing-masing.
Program Asta Cita yang dicanangkan olelh Presiden Prabowo Subianto ini pun harus dilaksanakan dengan serius oleh jajaran pemerintah mulai dari tingkat pusat bahkan sampai tingkat desa untuk mewujudkan Indonesia keberhasilan swasembada pangan.
Belakangan ini beberapa kelompok tani menyampaikan keluhannya terkait infrastruktur jalan pertanian , salah satunya adalah Kelompok Tani yg diketuai oleh Alan Suhendar yang berada di Kp. Gumuruh RT 07/RW 08 Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Rabu, ( 3/12/2025 ).
Alan mengatakan bahwa dirinya bersama kelompok tani yang dia pimpin selalu merasa kesulitan saat musim panen tiba untuk membawa gabah mereka dari sawah menuju kerumah.
” Kami sangat kesulitan ketika sudah musnim panen padi, dengan hasil panen yang lumayan banyak berkisar 450 ton dari luas lahan kurang lebih 300 Hektar, dengan kondisi jalan dan jembatan yang rusak sulit bagi kami untuk bisa cepat dalam melaksanakan proses pengangkutan hasil panen “. Ujarnya.
Alan juga berharap kepada pihak pemerintah Desa ataupun wakil rakyat ( DPRD )yang memiliki Daerah Pemilihan ( Dapil ) diwilayahnya untuk menanggapi hal ini secara serius agar para petani bisa melaksanakan akivitasnya dengan lancar dan roda perekonomian bisa normal tanpa adanya tekanan ataupun permainan harga dari para tengkulak akibat rusaknya akses jalan.
Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Redaksi Media Propam News TV Edy Widodo, S.H., M.H., angkat bicara dan menghimbau agar para pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah setempat agar fokus pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian untuk memudahkan akses petani ke lahan mereka serta meningkatkan distribusi hasil pertanian agar dapat menekan biaya produksi. Melalui Program Jalan Usaha Tani ( JUT ) ini juga bisa didanai melalui Dana Desa dan anggaran pemerintah lainnya, melibatkan partisipasi masyarakat secara swakelola, serta sejalan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan.
” Jalan Usaha Tani ( JUT ) ini tujuannya jelas, meningkatkan aksesibilitas untuk mempermudah petani bisa mencapai lahan pertanian mereka dan membawa hasil panen ke pasar. Ini juga bisa meningkatkan efisiensi produksi untum memperlancar mobilitas dan distribusi sarana produksi serta hasil pertanian. Menekan biaya produksi guna mengurangi biaya produksi yang tinggi karena akses jalan yang buruk. Mendukung ketahanan pangan dengan cara mempermudah aktivitas pertanian sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani “. Ujar pria yang akrab disapa Mas Wid ini.
Mas Wid juga menyampaikan bahwa program pelaksanaan Jalan Usaha Tani ( JUT ) ini juga sebagian besar menggunakan Dana Desa, APBDes, dan sumber dana pemerintah lainnya.
” Membangun Jalan Usaha Tani ( JUT ) bisa memakai Dana Desa, APBDes ataupun dana pemerintah lainnya, tinggal pilih mau pakai cara yang mana selama itu demi kesejahteraan masyarakat saya kira nggak ada masalah, kalau pemerintahnya serius dan peduli pasti jadi itu jalan “. Tegas Mas Wid.
Disinggung mengenai Dampak program Jalan Usaha tani, Mas Wid mengatakan bahwa peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani bahkan sampai bisa berdampak ekonomi ganda akan dapat dicapai.
” Dengan adanya akses jalan yang lebih baik akan meningkatkan semangat dan produktivitas petani, dengan mempermudah akses kepasar dan mendapatkan harga yang lebih baik untuk hasil panen mereka maka kehidupan petani akan sejahtera, ketika infrastruktur pertanian dijadikan sebagai pondasi untuk pembangunan pedesaan yang lebih baik dan berkelanjutan maka selain mendukung pertanian, hal ini juga dapat berfungsi sebagai program padat karya dan menunjang sektor lain seperti pariwisata. Inilah yang disebut dengan dampak ekonomi ganda “. Pungkasnya. ( Aziz )








