
RIAU //propamnewstv.id/ ย โ Di balik rimbunnya pepohonan dan semilir angin di Desa Sibiruang, riuh rendah suara siswa UPT SDN 010 Sibiruang menyimpan sebuah tanya yang belum terjawab. Di saat sekolah-sekolah lain mulai merayakan semarak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan tawa dan piring-piring yang terisi, para siswa di sekolah ini hanya bisa menatap dari kejauhan, memendam rindu yang sama kapan giliran mereka tiba?
Program MBG, yang sejatinya hadir sebagai pase nutrisi bagi generasi emas bangsa, seolah masih menjadi fatamorgana bagi ratusan siswa di Kecamatan Koto Kampar Hulu ini. Ada antusiasme yang membuncah di mata mereka, sebuah keinginan sederhana untuk merasakan nikmatnya santapan sehat yang juga dirasakan oleh rekan-rekan mereka di sekolah lain. “Antara Antusiasme dan Tanda Tanya”.
Kepala Sekolah UPT SDN 010 Sibiruang, Syafri, M.Pd, mengakui adanya kegelisahan yang menyelimuti lingkungan sekolahnya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada kejelasan mengapa sekolah yang dipimpinnya belum tersentuh oleh program nasional tersebut. “Siswa kami sangat antusias. Mereka melihat sekolah lain sudah menikmati, tentu ada rasa ingin tahu dan keinginan yang besar untuk merasakan hal yang sama. Namun, hingga kini sebab pastinya mengapa kami belum dapat, masih belum jelas,” ungkap Syafri dengan nada penuh harap.
Suara yang Menembus Batas, “Bagi para siswa, seiring dengan matahari yang naik di ufuk timur Sibiruang, harapan mereka tetap sama. Mereka tidak hanya haus akan ilmu, tetapi juga mendamba perhatian yang setara. Ketimpangan informasi dan distribusi ini menciptakan ruang tunggu yang panjang dan melelahkan bagi anak-anak yang hanya ingin tumbuh sehat melalui program pemerintah tersebut.
Secara geografis, Kabupaten Kampar memang luas, namun jarak seharusnya tidak menjadi penghalang bagi keadilan nutrisi. Setiap suapan dalam program MBG adalah investasi masa depan, dan anak-anak di SDN 010 Sibiruang adalah bagian dari investasi itu. Menanti Jawaban di Balik Kebijakan kini, bola panas ada di tangan pemangku kebijakan. Masyarakat pendidikan di Koto Kampar Hulu menanti jawaban pasti. Apakah ini sekadar masalah administrasi, atau ada kendala distribusi yang belum terurai?
Sambil menunggu, para guru dan siswa di UPT SDN 010 Sibiruang tetap menjalankan tugas mulia mereka di ruang kelas. Namun, di setiap istirahat sekolah, harapan itu tetap adaโterbang bersama doa agar esok hari, aroma makanan bergizi juga singgah di meja-meja belajar mereka. “Sebab pendidikan bukan hanya soal pena dan buku, tapi juga tentang memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang merasa terlupakan di meja makan pertiwi.
Cd (Red)








