Dunia //propamnewstv.id – Celak (eyeliner) ribuan tahun lalu dikenakan oleh laki-laki dan perempuan masyarakat Timur Tengah. Tradisi ini bukan cuma untuk keindahan dan kesehatan mata, tapi juga bermakna spiritual.
“Saat saya memakai eyeliner di tempat tinggal saya di Brooklyn [AS] yang begitu jauh dari kampung halaman, saya merasa seperti terhubung dengan ibu saya, nenek saya, dan dengan perempuan di seluruh Timur Tengah,” kata jurnalis bernama Zahra Hankir.
Desember lalu Badan Kebudayaan PBB, UNESCO, memasukkan kohl ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda. Kohl adalah kosmetik mata berwarna gelap, yang secara tradisional diaplikasikan, baik oleh perempuan dan laki-laki, di sekitar mata.
Kohl dalam bahasa Inggris sepadan dengan istilah eyeliner, sementara bahasa Indonesia mengenalnya dengan sebutan celak. Kohl memiliki akar yang membentang ribuan tahun.
Di wilayah lainnya, kohl dikenal dengan nama yang berbeda, seperti kajal di Asia Selatan, tiro di Nigeria, dan sormeh di Iran.
Secara tradisional kohl terbuat dari antimon, timbal, atau mineral lainnya. Adapun produk versi modernnya mengandung bahan-bahan lain.
Kosmetik ini memiliki makna khusus bagi penulis berdarah Lebanon, Zahra Hankir, yang keluarganya pindah ke Inggris untuk menghindari perang saudara tahun 1975.
“Dulu saya sering memperhatikan ibu saya merias wajahnya ketika kami tinggal berjauhan. Saya merasa dia terhubung dengan sesuatu yang sangat dalam,” ujarnya yang menulis buku berjudul Eyeliner: A Cultural History.
Menurutnya, pengakuan UNESCO membingkai kohl bukan sekedar tren atau produk, tapi sebagai praktik budaya yang hidup dan layak dilindungi.
“Penetapan oleh UNESCO membantu melindungi pengetahuan, ritual, dan keahlian yang terkait dengan pembuatan dan pemakaian kohl, memastikan bahwa hal-hal tersebut didokumentasikan, ditransmisikan, dan dihargai lintas generasi daripada diencerkan atau hilang oleh budaya kecantikan komersial yang terglobalisasi,” ujarnya.
Asal usul kohl dapat ditelusuri ke peradaban kuno di Mesir, Mesopotamia, dan Persia. Di Mesir Kuno, menurut Hankir, kohl dipakai semua orang, tanpa memandang jenis kelamin atau kelas.








