GREENLAND //propamnewstv.id – Pernyataan yang disampaikan pada 21 Januari lalu itu menjadi kejutan setelah terjadi peningkatan ketegangan diplomatik selama berminggu-minggu sebelumnya.
Presiden Trump menyampaikan pengumuman resmi itu usai melakukan pembicaraan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 21 Januari lalu.
“Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif saya dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk sebuah kerangka kesepakatan masa depan dengan rasa hormat terkait Greenland,” ujar Trump melalui platform media sosial, Truth Social.
Mengutip pernyataan sejumlah pejabat yang anonim, surat kabar New York Times melaporkan bahwa salah satu ide yang muncul adalah Denmark menyerahkan kedaulatan atas wilayah kecil di Greenland untuk pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat.
Pengaturan itu disebut akan mirip dengan status dua pangkalan militer di Siprus, yang tetap berada di bawah kedaulatan Inggris sejak Siprus merdeka pada 1960.
Namun, belum jelas bagaimana model tersebut dapat diterapkan jika Denmark dan Greenland sama-sama menolak untuk melepaskan kedaulatan mereka.
Dalam argumennya untuk menguasai Greenland, Trump telah menyinggung ancaman dari kapal-kapal China dan Rusia di sekitar pulau itu, meskipun Denmark menyatakan bahwa tidak ada ancaman “saat ini”.
Terkait hal itu, sekutu-sekutu NATO telah mencoba meyakinkan AS bahwa mereka akan meningkatkan keamanan di Arktik, dan Mark Rutte menyatakan bahwa kerangka kesepakatan tersebut juga akan mewajibkan kontribusi ini.
“Saya tidak ragu, kita dapat melakukan ini dengan cukup cepat. Tentu saya berharap pada tahun 2026, bahkan saya harap awal tahun 2026,” ujar Rutte pada Kamis lalu.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, berkata bahwa Inggris telah menyerukan pembentukan Arctic Sentry (Penjaga Arktik) yang “sangat mirip dengan pendekatan yang diambil NATO terhadap Baltic Sentry”—sebuah misi untuk meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal di Laut Baltik.
Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt, pada Kamis lalu, menyatakan bahwa pemerintahnya tidak meminta Rutte untuk bernegosiasi dengan AS atas nama mereka, melainkan untuk menyampaikan adanya “garis merah secara langsung kepada Presiden Trump.”
Hingga saat ini, Rutte belum mengonfirmasi hal tersebut dan justru menuai kritik atas pujian yang terus-menerus dia berikan kepada Presiden Trump.








