Foto:Acara Musda ASITA Kalbar
KALBAR //propamnewstv.id/ – Musyawarah Daerah (Musda) ASITA Kalimantan Barat Tahun 2026 yang mengusung tema “ASITA for Global Connectivity & Tourism” berakhir deadlock setelah jalannya persidangan diwarnai ketegangan, interupsi, dan perbedaan pendapat antarpeserta.
Musda yang berlangsung di ruang rapat Hotel Mahkota Pontianak, Kamis (30/7/2026), tersebut sempat beberapa kali dihentikan sementara atau diskors setelah sejumlah peserta menyampaikan interupsi dan menyatakan ketidaksetujuan terhadap sejumlah keputusan yang diambil dalam forum.
Situasi semakin memanas ketika perbedaan pandangan antara peserta dan pimpinan sidang tidak menemukan titik temu. Sedikitnya tiga kali skors dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta mencari solusi terbaik demi keberlangsungan Musda.

Namun, setelah beberapa kali dilakukan skors, forum tetap belum berhasil mencapai kesepakatan yang dapat diterima seluruh pihak.
Sekretaris Jenderal ASITA Pusat yang hadir dalam Musda tersebut kemudian menyatakan bahwa pelaksanaan Musda ASITA Kalbar 2026 mengalami kebuntuan atau deadlock. Keputusan tersebut diambil setelah melihat situasi persidangan yang dinilai sudah tidak kondusif dan tidak menemukan jalan keluar yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh peserta.

Dalam dinamika persidangan tersebut, Sekjen ASITA Pusat juga menyampaikan bahwa dirinya telah berupaya bersikap netral dalam menjalankan tugas sebagai utusan Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASITA. Namun, situasi yang berkembang dalam forum membuat dirinya merasa kurang dihargai dalam kapasitasnya sebagai perwakilan DPP.
Ketegangan semakin terlihat ketika Sekjen ASITA Pusat menyampaikan keputusan untuk menunda pelaksanaan Musda. Dalam situasi tersebut, terjadi perdebatan dan interupsi dari sejumlah peserta yang membuat suasana forum semakin tidak kondusif.
Sekjen ASITA Pusat kemudian meninggalkan ruangan tempat berlangsungnya acara setelah persidangan dinyatakan tidak dapat dilanjutkan. Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya Musda ASITA Kalbar 2026 dalam kondisi deadlock.
Dengan dinyatakannya Musda deadlock, agenda pemilihan dan penetapan kepengurusan ASITA Kalimantan Barat periode berikutnya belum dapat diselesaikan dan akan diagendakan kembali sesuai mekanisme organisasi.
Usai acara, salah satu peserta Musda yang juga merupakan calon Ketua ASITA Kalbar, Budi, menyampaikan pandangannya mengenai jalannya persidangan. Ia menilai pelaksanaan Musda belum berjalan secara netral dan menduga adanya keberpihakan dari Steering Committee (SC) atau pimpinan sidang terhadap salah satu calon.
“Pada hari ini, kami melihat Musyawarah Daerah berjalan tidak netral karena adanya keberpihakan dari SC atau pimpinan sidang. Kami menilai keberpihakan tersebut juga mengarah kepada salah satu calon, sehingga calon lainnya tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju,” ujar Budi.
Budi juga menyoroti sejumlah keputusan yang menurutnya diambil oleh SC tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dari forum Musda.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Sekjen ASITA Pusat akhirnya mengambil keputusan untuk menyatakan persidangan deadlock.
“Sekjen akhirnya mengambil keputusan bahwa sidang deadlock karena banyak keputusan SC yang diambil tanpa meminta persetujuan dari forum. Padahal, keputusan tertinggi berada pada forum Musda,” katanya.
Budi menambahkan, keputusan dari DPP ASITA melalui Sekjen tersebut membuat pelaksanaan Musda harus dihentikan dan akan kembali diagendakan pada waktu berikutnya.
“Dari DPP, Sekjen memutuskan bahwa hari ini Musda kita deadlock sampai nanti diadakan Musda kembali,” ujarnya.
Sementara itu, pernyataan mengenai dugaan ketidaknetralan dan keberpihakan dalam persidangan tersebut merupakan pandangan dari beberapa peserta Musda Kalbar. Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari pihak SC maupun Korwil ASITA Kalimantan terkait pernyataan tersebut.
Musda ASITA Kalbar 2026 sebelumnya diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat peran ASITA dalam mendukung kemajuan industri pariwisata dan konektivitas global, sesuai dengan tema “ASITA for Global Connectivity & Tourism”.
Namun, dinamika yang terjadi dalam forum menjadi catatan tersendiri bagi organisasi. Diharapkan, persoalan yang muncul dapat segera diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah sehingga pelaksanaan Musda berikutnya dapat berlangsung secara tertib, demokratis, transparan, dan sesuai dengan mekanisme organisasi.
Tim//red


