SINTANG,//PropamNewsTv.id/ – Layanan darurat 110 milik Polri kembali membuktikan fungsinya melampaui sekadar pusat pelaporan tindak kriminal. Di balik dering telepon yang melintasi ribuan kilometer, layanan ini menjadi jembatan harapan dan kemanusiaan bagi sebuah keluarga yang tengah dirundung duka.
Kisah haru ini bermula saat petugas piket 110 Polres Sintang menerima sambungan koordinasi dari Polres Badung, Polda Bali. Seorang warga asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di Bali sedang kalut mencari kabar anggota keluarganya yang berada di Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.
Saat panggilan disambungkan, suara seorang ibu dengan nada cemas dan pecah oleh duka terdengar di ujung telepon. Ia mencari kepastian mengenai kabar meninggalnya salah satu anggota keluarga di Ambalau.
Kebingungan menyelimuti mereka, jarak yang membentang jauh dan keterbatasan kontak membuat pihak keluarga tak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk mengurus jenazah almarhum.
Merespons cepat situasi tersebut, petugas layanan 110 Polres Sintang langsung melakukan penelusuran. Hasil koordinasi dilapangan mengonfirmasi kebenaran kabar duka tersebut bahwa keluarga pelapor telah menghembuskan napas terakhir di Puskesmas Kemangai, Kecamatan Ambalau, akibat sakit.
Tak sekadar menyampaikan kabar buruk, kepolisian langsung bergerak memberikan solusi nyata. Petugas segera berkoordinasi dengan Kapolsek Ambalau untuk mengawal proses penanganan jenazah hingga membantu pengurusan administrasi dan pemulasaraan lebih lanjut.
Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo, S.H.,S.I.K., menegaskan bahwa peran kepolisian di wilayah terpencil seperti Ambalau sangat vital, terutama saat akses komunikasi menjadi kendala utama.
“Layanan 110 hadir bukan hanya untuk gangguan Kamtibmas, tapi juga untuk situasi darurat kemanusiaan. Ini adalah bentuk komitmen kami agar masyarakat tidak merasa sendirian di saat sulit, apalagi dalam situasi berduka seperti ini,” ujar AKBP Sanny.
Sinergi lintas wilayah yang melibatkan Mabes Polri, Polda Bali, hingga ke tingkat Polsek di pelosok Sintang menjadi kunci keberhasilan misi kemanusiaan ini. Jarak ratusan bahkan ribuan kilometer seolah terpangkas oleh kecepatan respons petugas.
“Kami ingin memastikan bahwa Polri siap menjadi penghubung dan penolong kapan pun dibutuhkan. Layanan 110 adalah bukti kehadiran negara di tengah masyarakat tanpa terhalang batas geografis,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik teknologi layanan darurat, ada sentuhan empati yang bekerja. Kepolisian tidak hanya hadir untuk menegakkan hukum, tetapi juga hadir sebagai sandaran saat masyarakat kehilangan arah di tengah musibah. ( Red )








