Program MBG, // Propamnewstv.id – yang seharunya bisa menjadi salah satu akses untuk menumbuhkan gizi yang baik dan sehat untuk anak anak balita dan ibu hamil namun lain hal nya dengan MBG Saketi.
Paket Ibu ibu Hamil dan menyusui tidak ada khasiatna menurut nya paket MBG ini tidak cocok untuk ibu hamil dan menyusui karna kandungan gizi belum bisa di pastikan. Ucap warga yang menerima MBG saketi inisial A Rabu 25/02/2026
Hal ini menjadi pertanyaan Publik apakah “MBG hanya memperdulikan keuntungan saja tanpa memperdulikan kesehatan ibu menyusui dan si bayi.
Menu MBG yang saat ini pantas atau tidak nya seperti ini untuk ibu menyusui.
1. Susu kotak vidoranmart kotak 110ml
2. ulta sari kacang ijo kemasan kotak 150ml
3. telur rebus 1 buah
4. kacang mede kemasan plastik obat
5. keripik tempe kemasan plastik obat
6. kurma kemasan plastik isi 2 biji
7. biskuit tape 2 pcs
8. biskuit sari gandum 1 pcs
Yang seharusnya Menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bermanfaat bagi ibu menyusui karena bisa membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, meningkatkan kualitas dan kelancaran ASI, serta mempercepat pemulihan pasca melahirkan. Namun Program ini diduga Program prioritaskan untuk oknum memperkaya tanpa mempedulikan kesehatan ibu menyusui dan si balita. tutunya
Menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) seharusnya harus sesuai juklak namun jika tidak sesuai juklak (petunjuk pelaksanaan) makan Kualitas makanan tidak terjamin, Gizi tidak seimbang, Penerima manfaat tidak puas, Terjadi penyimpangan dana. jelasnya
MBG Tujuannya kan untuk meningkatkan gizi anak-anak, jadi harus sesuai aturan Penerima MBG harus merasa puas dengan menu yang disajikan karena tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup dan gizi mereka.
Tapi kepuasan juga tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan. Kalau menu sesuai juklak, tapi rasa atau penyajiannya kurang, seharusnya menjadi bahan evaluasi segera.
Kualitas MBG juga harus nya terjamin dengan melalui pengawasan ketat dari pemerintah dan pihak terkait.
seperti Pemilihan bahan makanan yang segar dan bergizi, Proses pengolahan yang higienis, Pemantauan gizi dan kesehatan penerima, Evaluasi dan perbaikan terus-menerus
“Tujuannya, Penerima MBG dapat makanan yang berkualitas dan bergizi”.
Kami juga menduga ahli gizi dapur saketi tidak mempunyai sertifikat profesi karna Ahli gizi dapur harus bersertifikat untuk memastikan mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola dapur dan menyajikan makanan bergizi.
Sertifikat ini bisa diperoleh melalui pelatihan dan pendidikan formal di bidang gizi atau kuliner. Dengan sertifikat mereka dapat menjamin kualitas makanan dan keamanan pangan yang akan di berikan kepada Penerima Manfaat.
Sampai saat ini jurnalis propamnewstv masih mencoba mengkonfirmasi pihak terkait. (IRGI)








