
JABAR //propamnewstv.id/— Tenda-tenda berdiri, panggung ditata, dan senyum-senyum kebersamaan mengalir di Kelurahan Awirarangan, Kecamatan Kuningan, Sabtu (11/04/2026). Perayaan momen penting ke-25 digelar dengan tema “Indahnya Kebersamaan Membangun Masyarakat Awirarangan yang Maju dan Bermartabat.” Sebuah kalimat yang bukan hanya harapan, tapi juga—bagi sebagian—masih menjadi pertanyaan. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri unsur pemerintahan, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai aliansi masyarakat serta organisasi kemasyarakatan, termasuk Pemuda Pancasila, yang turut ambil bagian dalam menyemarakkan acara.
Di antara deretan kursi undangan, tampak Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., hadir bersama Kapolsek Kuningan, Bambang Poernomo, S.H., Camat Kuningan, Deni Hamdani, S.E., M.Si., serta Lurah Awirarangan, Budiman, S.E., M.Si. Turut mendampingi, Ketua LPM Awirarangan, Andi Rahmat, dan Ketua Karang Taruna IPMA, Andri Dope.
Lengkap hampir tak ada yang absen. Seolah ingin memastikan bahwa kebersamaan memang hadir setidaknya di atas panggung, dan kali ini juga di barisan-barisan yang ikut mendukung dari luar panggung. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., mengingatkan bahwa kemajuan bukan sekadar soal bangunan yang berdiri, tetapi juga hubungan sosial yang tetap terjaga.
“Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas kebersamaan dan martabat masyarakat,” tuturnya. Pernyataan yang terdengar sederhana, namun menyimpan makna dalam: bahwa pembangunan tanpa kebersamaan, bisa saja hanya meninggalkan bentuk tanpa ruh.
Camat Kuningan, Deni Hamdani, S.E., M.Si., berbicara tentang sinergi. Kapolsek Kuningan, Bambang Poernomo, S.H., mengingatkan pentingnya keamanan. Sementara Lurah Awirarangan, Budiman, S.E., M.Si., bersama Ketua LPM, Andi Rahmat, serta Ketua Karang Taruna IPMA, Andri Dope, menyuarakan komitmen.
Semua kata terdengar tepat. Semua dukungan terlihat nyata. Namun seperti biasa, pertanyaan yang lebih sunyi justru datang setelah tepuk tangan reda: apakah kebersamaan ini akan tetap hidup saat panggung dibongkar? Atau kembali menjadi agenda yang hanya ramai di momen tertentu?
Anak-anak tertawa, warga berbaur, dan berbagai elemen baik dari pemerintahan, aliansi, hingga organisasi kemasyarakatan menjadi bagian dari satu cerita hari itu. Sebuah cerita tentang kebersamaan yang tampak utuh, meski waktu yang akan menguji seberapa kuat ia bertahan. Awirarangan hari itu tampak indah. Namun masa depannya tidak ditentukan oleh perayaan, melainkan oleh konsistensi yang sering kali tak terlihat, tapi selalu terasa.
Fikri (Red)


