Pandeglang, // PropamNewstv.id — Kesadaran adalah cermin terdalam yang memantulkan makna setiap tindakan manusia. Dalam ruang hidup yang fana, setiap keputusan—sekecil apa pun—meninggalkan jejak moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada perbuatan yang benar-benar lenyap; semuanya menetap dalam ingatan nurani. Kamis (15/1/2026).
Bagi pemilik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dengan sengaja mengurangi porsi makanan, seharusnya tumbuh rasa gentar yang lahir dari perenungan batin. Sebab kehidupan dunia bukanlah panggung abadi. Ia berujung pada liang lahat, tempat kesunyian menjadi saksi dan keadilan ilahi mulai berbicara. Di sana, tipu daya kehilangan alasan, dan kejujuran menemukan nilainya yang sejati.

Kesadaran akan keterbatasan waktu manusia semestinya melahirkan tanggung jawab etis, bukan kelicikan yang dibungkus keuntungan sesaat. Mengurangi hak gizi anak bangsa bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan persoalan moral yang menyentuh martabat kemanusiaan.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan ikhtiar kebangsaan yang bertumpu pada amanah dan empati. Program ini dirancang untuk menumbuhkan generasi yang sehat secara jasmani dan jernih dalam akal budi—sebuah investasi moral bagi masa depan Indonesia.
Namun ketika sebagian pelaku usaha menukar nilai pengabdian dengan laba, esensi pelayanan publik berubah menjadi transaksi kering makna. Gizi yang diabaikan bukan hanya persoalan nutrisi, melainkan pengkhianatan terhadap tujuan bersama. Dalam perspektif filsafat moral, tindakan semacam ini mereduksi manusia menjadi sekadar alat ekonomi, bukan subjek bermartabat yang bertanggung jawab atas akibat perbuatannya.
Sang Jurnalis Desa Kasman, putra Patia yang lahir di Kampung Dungushaur, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas ikhtiar menghadirkan kebaikan melalui program Makan Bergizi Gratis. Kebijakan ini dipandang sebagai wujud nyata keberpihakan negara terhadap masa depan generasi bangsa.
Namun apresiasi tersebut sekaligus menjadi pengingat etis: kebijakan yang luhur memerlukan pelaksana yang berintegritas. Tanpa kesetiaan pada nilai kejujuran dan tanggung jawab, program terbaik pun dapat tereduksi oleh kepentingan sempit dan keserakahan sesaat.
Maka, marilah menata ulang kesadaran bersama—bahwa setiap sajian adalah amanah, setiap porsi adalah tanggung jawab, dan setiap niat akan dipertemukan dengan akibatnya. Di hadapan waktu yang menutup dan keadilan yang membuka, hanya kejujuran yang mampu membela diri. (Red)








