Sumatra Utara, // PropamNewstv.id – Kerusakan jembatan hingga lahan pertanian akibat banjir-longsor menyebabkan para petani durian di Desa Sibalanga, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, merugi. Penanggulangan bencana yang keliru berpotensi menciptakan kemiskinan baru, kata pengamat.
Pinahot, lelaki berusia 33 tahun, adalah petani durian di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
Dia dan petani lainnya nekat menerobos sungai sedalam dada orang dewasa lantaran terpaksa.
Sebab, jembatan menuju ladang mereka hanyut diterjang banjir bandang pada 25 November 2025 lalu.
Di sisi lain, musim durian menjadi salah-satu harapan para petani untuk dapat menyambung hidup di tengah situasi yang serba sulit pascabencana.
Bagi Pinahot, risiko ini wajib diambil demi memenuhi tanggung jawabnya selaku suami sekaligus bapak dari dua anak yang masih sekolah.
“Sebenarnya takut tapi karena menanggung keluarga, harus dipaksakan. Sekarang di sini sudah susah sekali kehidupan masyarakat gara-gara hanyut jembatan ini. Soalnya jembatan ini jalur untuk mengangkut hasil dari ladang,” ujar Pinahot usai menyeberangi sungai pada Minggu (28/12).
“Sampaikan sama [Presiden] Prabowo biar cepat jembatan kami diperbaiki, biar bisa kami beraktivitas mencari kehidupan dan mencari nafkah ke ladang kami,” ujar Pinahot.
Dengan karakteristik wilayah yang cocok, Sibalanga sudah lama tersohor sebagai desa penghasil durian asal Kabupaten Tapanuli Utara.
Ketika keadaan sulit seperti sekarang, warga memanfaatkannya untuk menopang hidup.
Sebagian hasil panen dijual, sebagian lagi disantap bersama keluarga di tenda-tenda darurat pengungsian.
Menurut petani durian lainnya, Zulkifli Hutabarat, bencana telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian mereka.
“Kami rugi di bidang kehidupan, dalam arti menyambung hidup. Sebanyak 80% warga kampung (berladang) ke sini, jadi untuk hasil bumi sampai sekarang terkendala. Sebulan lebih kami merasakan susahnya menggunakan tali untuk menyeberangkan hasil bumi,” ujar laki-laki berumur 30 tahun ini.
(Angga)








