Sumatra, // PropamNewstv.id – Banjir bandang dan longsor di Sumatra menyisakan kisah anak-anak yang dalam sekejab ditinggal orang tua mereka. Nasib anak-anak yang menjadi yatim piatu ini kini belum jelas.
Anak-anak yang ditinggal orang tua, kata seorang psikolog, membutuhkan rasa aman, selain juga kepastian soal kebutuhan dasar dan pendidikan. Itulah mengapa, kata dia, pemerintah harus bertanggung jawab atas masa depan mereka.
“Beberapa hari setelah kejadian banjir, dia cari bundanya, tapi kami lalaikan saja supaya jangan diingat lagi…” kata Ismawanto dengan suara gemetar.
Bocah yang diceritakan itu, namanya Gio Rafezky Ramadhan. Umurnya akan genap tiga tahun pada Maret nanti.
Ismawanto yang sudah sepuh ini bilang, cucu keempatnya itu belum tahu kalau ayah dan bundanya telah tiada kala banjir bandang yang disusul longsor turut menyeret keduanya sejauh belasan kilometer.
“Gio belum tahu ayah dan bundanya wafat. Cuma setiap kali lewat jalan menuju tempat yang sering disinggahi ayah dan bundanya, dia ingat.”
“Pasti dibilangnya, ‘Itu rumah adik’,” ucap Ismawanto menirukan bicara cucunya yang masih belum lancar.
Is, begitu ia disapa, mengaku sedikit lega karena Gio belum pernah merengek mencari-cari ayah serta bundanya setelah ditinggal meninggal. Tapi meskipun begitu, dia sadar akan ada waktunya pertanyaan yang memilukan itu muncul.
Ayah dan ibu Gio meninggal digulung banjir bandang di Aceh Tengah, akhir November lalu.
Juru bicara posko penanggulangan bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan sampai saat ini belum ada data khusus menyangkut anak yatim-piatu korban bencana banjir dan longsor.
Sebab, pihaknya masih fokus pada penanganan darurat. Sehingga, diakuinya, pendataan terhadap anak-anak itu menjadi lambat.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, bilang pemerintah pusat akan memberikan perlindungan dan jaminan sosial. Terutama, menyangkut pendidikan sampai tuntas.
Perlindungan dan jaminan sosial yang dimaksud, yakni kebutuhan dasar, makanan bergizi, pelayanan Kesehatan, dan pendidikannya. (Red)







