Foto: Tim Media Propan News TV Audensi ke Dinas PUTR Kabupaten Kuningan.
JABAR //propamnewstv.id/— cara yang baik: datang, menyapa, lalu bertanya. Sederhana. Setidaknya di atas kertas. Senin, 13 april 2026 Kuningan. Tim Media PropamNewsTv Biro Kuningan yang dipimpin Pikri bersama tim hadir di Dinas PUTR Kabupaten Kuningan. Bukan membawa prasangka, hanya membawa temuan—yang di lapangan sudah lebih dulu bicara.
Pemeliharaan jalan yang tampak “cukup untuk terlihat”, K3 yang seperti hanya ada dalam kalimat, dan rambu-rambu yang kadang lebih sering tidak terlihat daripada berdiri di tempatnya.
Upaya konfirmasi sebenarnya sudah dimulai dari bawah. Dari Kasi Pemeliharaan BD, lalu diarahkan ke Kabag TD. Namun jawaban seperti enggan menetap—berpindah, berputar, tanpa benar-benar singgah.
Surat konfirmasi pun dilayangkan. Resmi. Jelas. Tapi jalurnya justru melebar.
Tiba-tiba, sebuah pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal masuk ke meja redaksi:
“Bang, nitip Kabag PUTR Tedi.”
Kalimat pendek. Maksudnya panjang.
Sejak kapan jalur resmi punya pintu samping?
Belum selesai di situ. Saat konfirmasi berlangsung di ruang Kabag, sebuah kejadian kecil—yang terasa besar—terjadi.
Seseorang masuk.
Tanpa ketuk. Tanpa jeda.
Dengan santai berkata,
“Ko pagi-pagi sekali…”
Seolah ruang itu bukan ruang kerja, tapi ruang singgah.
Pertanyaan pun muncul, pelan tapi jelas:
Ini ruang klarifikasi… atau ruang lalu-lalang?
Menurut informasi yang beredar, sosok tersebut diduga bagian dari salah satu ormas berinisial JG. Namun sampai kini, tak ada penjelasan resmi—ia datang sebagai siapa, dan untuk apa.
Dan di titik itu, pertanyaan mulai bertambah—bukan hanya soal jalan, K3, atau rambu.
Tapi juga tentang batas.
Akhirnya, langkah dilanjutkan ke Kepala Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, I Putu Bagiasna.
Di ruang yang lebih tenang, pertanyaan disusun ulang. Disampaikan dari awal—pelan, runtut, tanpa emosi.
Jawaban pun datang:
“Namanya juga pemeliharaan, ya seadanya, dengan anggaran secukupnya.”
Kalimat yang terdengar jujur.
Namun terasa seperti menjelaskan keadaan—bukan mempertanyakan keadaan.
Pertanyaan berikutnya lebih dalam:
apakah ada yang membekingi?
Jawaban: tidak ada.
Namun ketika ditanya—bagaimana jika ada?
Ruang itu memilih diam.
Dan kadang, diam bukan berarti kosong—
melainkan penuh, tapi tak ingin dibuka.
Di akhir, Pikri menyampaikan satu hal yang sederhana:
Jika benar, kami apresiasi.
Jika lalai, kami ingatkan.
Karena media bukan datang untuk mencari salah—
tapi memastikan yang benar tetap berdiri.
Audensi pun selesai. Tenang. Tanpa gaduh.
Namun ada satu hal yang tertinggal di ruangan itu:
pertanyaan yang sudah sampai,
tapi jawaban yang masih memilih berjalan.
Kabiro kuningan
Fiqri Zulfikar (Red)


