Oleh : Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA‑D., CPC., CPL (Departemen Litbang dan Bimtek Media Propam News TV)
JAKARTA //propamnewstv.id/— Jakarta Timur, Senin, 12 Oktober 2026 – Judul merupakan pintu masuk utama suatu karya jurnalistik. Di era media digital saat ini, pembaca sangat cepat memilih atau melewati suatu berita hanya berdasarkan judulnya. Namun banyak penulis pemula terjebak membuat judul yang hanya sensasional tanpa berdasar fakta berita.
Pedoman ini disusun sebagai bahan pelatihan bagi wartawan dan penulis berita agar dapat menyusun judul yang menarik, tetap berpegang pada prinsip‑prinsip jurnalistik yang sehat.

I. Prinsip Dasar Pemilihan Judul Berita Jurnalistik
Ada empat pilar utama yang harus selalu diperhatikan :
1. Faktual dan tidak membingungkan : Judul harus sesuai dengan isi berita, tidak menambahkan atau mengubah makna fakta yang ada. Hindari judul “click‑bait” yang menipu pembaca.
2. Singkat tetapi padat : Menggunakan kalimat yang tidak terlalu panjang, namun memuat unsur penting peristiwa (apa, siapa, di mana, mengapa jika penting).
3. Menarik tanpa melanggar etika : Dapat menggunakan sudut pandang (angle) khusus, tetapi tidak menghina, menghakimi atau menyebarkan prasangka terhadap pihak tertentu.
4. Mewakili sudut utama berita : Satu berita bisa memiliki beberapa pilihan judul, namun harus berfokus pada sudut inti yang dipilih penulis.
II. Langkah‑langkah Menyusun Judul Berita
1. Baca kembali seluruh naskah berita dan tentukan unsur peristiwa paling penting yang menjadi inti cerita.
2. Pilih satu sudut pandang (angle) khusus yang ingin ditonjolkan ( bukan semua fakta harus masuk ke judul ).
3. Susun 2‑3 opsi draf judul sebagai bahan perbandingan.
4. Periksa kembali : apakah sudah faktual, tidak berlebihan, dan mudah dipahami?
5. Pilih judul terbaik atau lakukan penyempurnaan ulang jika masih ada keraguan.
III. Jenis‑jenis Pendekatan Judul yang Sering Digunakan (dengan catatan etika)
‑ Judul langsung (fakta utama) : Menyampaikan peristiwa secara jelas dan lugas (cocok untuk berita peristiwa resmi).
‑ Judul sudut khusus (angle berbeda) : Menyoroti satu dimensi khusus dari peristiwa yang banyak orang belum perhatikan (sering digunakan untuk berita feature atau opini berbasis fakta).
‑ Judul menggugah perhatian (bombastis secara terkendali) : Menggunakan kata‑kata yang kuat tetapi tetap berdasar fakta – bukan berarti boleh berbohong atau melebih‑lebihkan. Perlu diwaspadai agar tidak menjadi click‑bait yang melanggar kode etika wartawan.
‑ Judul pertanyaan (hanya untuk artikel opini atau feature analitis) : Tidak disarankan untuk berita peristiwa murni karena berisiko menimbulkan keraguan tanpa bukti jelas.
IV. Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
1. Judul terlalu panjang dan penuh kata‑kata berlebihan.
2. Judul tidak sesuai isi berita (click‑bait yang melanggar etika).
3. Menggunakan penilaian subjektif seolah‑olah merupakan fakta resmi tanpa sumber yang jelas.
4. Memuat terlalu banyak unsur sehingga inti berita menjadi kabur.
5. Menggunakan bahasa kasar atau menghakimi salah satu pihak dalam peristiwa.
V. Contoh Perbandingan Judul Kurang Baik dan Lebih Baik
Kasus : Seorang gubernur melakukan kunjungan kerja dan membuka program penghijauan kota.
‑ Judul kurang baik : “HEBAT SEKALI! Gubernur melakukan segala hal untuk selamatkan kota kita!” (terlalu subjektif, berlebihan)
‑ Judul lebih baik (sudut langsung) : “Gubernur Resmi Membuka Program Penghijauan Wilayah Ibu Kota”
‑ Judul sudut khusus (terkendali menarik) : “Di Balik Kunjungan Gubernur : Penghijauan Sebagai Langkah Jangka Panjang Kota Hijau”
Judul yang baik bukan hanya tentang menarik perhatian pembaca, tetapi juga merupakanwajah kepercayaan media kepada masyarakat. Kemampuan memilih dan menulis judul yang tepat merupakan keterampilan dasar yang harus terus dilatih oleh setiap wartawan. Dengan memegang prinsip fakta dan etika, media dapat menyajikan berita yang bermanfaat dan terpercaya bagi masyarakat luas.
Teknik Menulis Judul Berita dengan Benar Sesuai Ejaan yang Baik dan Benar
Judul berita tidak hanya harus menarik dan faktual, tetapi juga harus mengikuti aturan Ejaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (EBI). Kesalahan ejaan, penggunaan huruf kapital yang salah atau tanda baca yang keliru dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap media.
Materi ini menjelaskan teknik penulisan judul berita dengan memperhatikan aturan EBI dan praktik jurnalistik yang lazim.
I. Aturan Dasar Ejaan untuk Judul Berita berdasarkan EBI
1. Penggunaan huruf kapital
‑ Aturan EBI resmi : hanya huruf awal kata pertama dan nama diri (nama orang, lembaga, tempat) yang diberi huruf kapital.
‑ Catatan praktik jurnalistik : banyak media menerapkan huruf kapital pada setiap kata penting (istilah “title‑case”), namun untuk kebenaran ejaan dasar tetap mengacu pada EBI. Hindari menulis SEMUA KATA DENGAN HURUF KAPITAL secara penuh kecuali untuk penekanan khusus yang terbatas.
2. Penulisan kata dan imbuhan
‑ Awalan me‑, di‑, ke‑, peng‑ dan sebagainya harus digabung dengan kata dasar (dilakukan, mengadakan, kegiatan – bukan di lakukan, meng adakan).
‑ Kata serapan dan istilah resmi harus mengikuti penulisan KBBI terbaru.
3. Tanda baca di judul
‑ Hindari tanda seru (!) berlebihan ; jika digunakan harus sesuai konteks peristiwa penting dan tidak hanya untuk sensasi.
‑ Tanda koma (,) boleh digunakan untuk memisahkan unsur informasi, tetapi jangan terlalu banyak sehingga judul menjadi panjang.-
‑ Jangan memakai titik (.) di akhir judul berita.
4. Angka dan singkatan
‑ Angka pada judul boleh ditulis dengan angka lambang (contoh 7 kota, 12 Oktober) sesuai kebiasaan jurnalistik.
‑ Singkatan resmi hanya digunakan jika sudah sangat dikenal masyarakat (Polda, KPK) ; hindari singkatan buatan sendiri.
II. Teknik Langkah‑demi‑Langkah Menulis Judul dengan Ejaan Benar
1. Tentukan inti fakta berita terlebih dahulu.
2. Susun kalimat judul dalam draf awal tanpa terburu‑buru memakai huruf kapital atau tanda baca berlebihan.
3. Periksa satu per satu : penulisan imbuhan, nama orang‑lembaga‑tempat, kata serapan.
4. Atur penggunaan huruf kapital sesuai aturan EBI atau gaya selaras panduan media tempat bekerja.
5. Hapus titik di akhir judul ; periksa kembali apakah tanda baca yang dipakai sudah perlu
6. Baca ulang untuk memastikan tidak ada salah ketik atau salah ejaan.
III. Contoh Perbandingan : Salah vs Benar (EBI + Gaya Jurnalistik)
Kasus : Kegiatan Safari 7 Kota Jawa‑Bali oleh Panitia API PEWARNA Indonesia pada 12 Oktober 2026
‑ Salah : SAFARI 7 KOTA JAWA BALI Oleh panitia api pewarna indon
esia ! (seluruh huruf kapital berlebihan, nama lembaga tidak kapital, tanda seru tidak perlu)
‑ Kurang tepat : Safari 7 kota Jawa‑Bali oleh panitia API Pewarna Indonesia . (nama kota kurang konsisten, ada titik di akhir)
‑ Benar (EBI + gaya media) : Safari 7 Kota Jawa‑Bali Diprakarsai Panitia API PEWARNA Indonesia
Kasus : Pertemuan perdana Kapolda Metro Jaya dengan awak media
‑ Salah : Pertemuan Perdana kapolda metro jaya dengan wartawan ! (nama jabatan‑daerah tidak kapital, tanda seru tidak perlu)
‑ Benar : Pertemuan perdana Kapolda Metro Jaya bersama awak media wilayah Ibu Kota
IV. Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi pada Judul Berita
‑ Salah pisah imbuhan : di adakan → diadakan ; meng ajak → mengajak
‑ Huruf kapital acak‑acakan : gubernur dki → Gubernur DKI
‑ Menambahkan titik di akhir judul
‑ Penggunaan tanda seru berulang‑ulang untuk membuat kesan bombastis tanpa alasan faktual
‑ Salah ejaan nama orang atau lembaga yang menjadi sumber berita
Kebenaran ejaan dalam judul bukan hanya masalah tata bahasa, melainkan bagian dari profesionalisme wartawan. Judul yang faktual, menarik dan ber‑EBI akan membantu media mempertahankan kepercayaan pembaca. Selalu periksa kembali ejaan sebelum berita diterbitkan.
(Bahan Bimtek Litbang Media Propam News TV, Oktober 2026)
Tim//red


