JAKARTA,//PropamNewsTv.id/– Di sebuah ruangan yang hangat di Kantor Kedutaan Besar Palestina, Jakarta, Selasa, 7 April 2026, harapan sejarah masa depan Dunia Muslim, membuncah sumringah. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Masyumi melakukan kunjungan audiensi kepada Duta Besar Palestina untuk Indonesia yang baru, Abdulfattah A.K. Al-Sattari.
Pertemuan ini bukan sekadar protokoler diplomatik, melainkan sebuah reuni ideologis antara partai penyandang sejarah besar di Indonesia dengan bangsa yang tengah berjuang untuk kemerdekaannya, sekaligus membangun harapan baru akan sejarah masa depan yang gemilang.
Dubes Abdulfattah, diplomat pertama asli warga Gaza, yang membawa suasana emosional mengenai syahidnya keluarganya dan ribuan warga Palestina, menjelaskan kondisi terkini di Palestina yang masih merasakan blockade. Krisis makanan dan air bersih, menyelimuti hari-hari seluruh warga. Namun, ia menegaskan, “kami tidak pernah takut terhadap Israel. Tujuan kami hanya Allah, kami berjuang untuk kemerdekaan negeri kami dan memohon perlindungan hanya kepada Allah”.
Dengan spirit yang sama, Ketua Umum DPP Partai Masyumi, Dr. Ahmad Yani, SH, MH, yang hadir bersama jajaran pengurus terasnya, menunjukkan keseriusan Masyumi dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan itu. Ahmad Yani mengenalkan Masyumi sebagai partai berideologi Islam yang memiliki rekam jejak historis kuat sejak era perjuangan kemerdekaan hingga zaman Presiden Soekarno. Sikap Masyumi mendukung kemerdekaan rakyat Palestina, tidak pernah berubah, dan sangat mengutuk penjajahan Zionis, serta mendesak PBB untuk menghapuskan penjajahan itu, dan memberikan hukuman tegas atas segala kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana.
Usai mendengarkan rekam jejak Masyumi itu, Dubes Al-Sattari menyampaikan terimakasih, apresiasi dan harapan besarnya. Beliau mendoakan agar Partai Masyumi kembali berjaya, berhasil mencapai cita-citanya, dan tetap konsisten menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dubes Al-Sattari menyatakan kesiapannya untuk melakukan kunjungan balasan apabila diundang oleh pihak Masyumi.
Makna di balik Kunjungan
Kunjungan resmi Masyumi ini mengandung makna yang sangat besar bagi perjuangan kebangkitan Dunia Muslim. “Ini bukan hanya auidensi formalistic, tapi penyatuan spirit dan langkah, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sebagaimana amanah UUD1945 Republik Indonesia”, tegas Ketum Ahmad Yani.
Palestina adalah symbol perjuangan Dunia Muslim, bahwa banyak negara berpenduduk Muslim di dunia, masih tertinggal di bidang ekonomi, pendidikan, sains dan teknologi, yang disebabkan oleh terus berlangsungnya imperialisme dari negara-negara agresor, seperti Israel Zionis yang dibakcup oleh Amerika, yang ingin menguasai wilayah dan sumber daya alam. Karena itu perlawanan rakyat Palestina adalah perjuangan Umat Islam dunia. Dunia Muslim harus bersatu untuk bangkit membangun sejarah masa depannya yang gemilang.
Pertemuan yang penuh keakraban ini diakhiri dengan pertukaran cinderamata. Secara khusus, Dubes Al-Sattari mengalungkan selendang perjuangan Palestina yang bertuliskan kata-kata penuh makna kepada para pengurus Muslimah Masyumi. Prosesi ini menjadi simbol kuat bahwa meski terpisah jarak geografis, perjuangan untuk menjaga Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina tetap menyatu dalam satu napas perjuangan kemanusiaan.
Dengan dibersamai oleh delegasi Masyumi yang lengkap, seperti Samsudin Dayan, SH, MSi (Sekjen), Dr. Abbas Thaha, BEE, MM (Sekretaris Majelis Syura), Alfian Tanjung (Waketum Ideologi dan Dakwah), Dr. Legisan Samtafsir, M.Ag (Waketum Political Branding), Drs. Ivan Prasetya (Waketum Pemerintahan, HANKAM, dan Luar Negeri), Utari Sulistiowati, SE (Waketum Humas, Media & Protokoler), Nora Yosse Novia, SH, MH (Wabendum), Farid Al Habsyi, SH dan Sa’id Rulam Fauzi (Wasekjen), Ir. Ditri Kemala Rizki (Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri), Ahmad Dwi Farisi, Richi Wibowo dan Travel Sri, kunjungan semakin penuh semangat dan optimisme.








