KAB TANGERANG, // PropamNewstv.id – Jeritan hati ratusan buruh PT SLI di Cengkok, Balaraja, kian menyayat hati. Terhitung sudah hampir sembilan bulan mereka dirumahkan tanpa kepastian. Di tengah himpitan ekonomi dan bayang-bayang kebutuhan bulan suci Ramadhan serta Idul Fitri, para pekerja kini menggantungkan harapan terakhir mereka pada kebijakan Bupati Tangerang, H. Moch. Maesyal Rasyid.
Penyegelan pabrik yang berlarut-larut telah mengubah kehidupan ratusan keluarga menjadi krisis berkepanjangan. Bagi para buruh, PT SLI bukan sekadar gedung dan mesin, melainkan satu-satunya “dapur” yang memastikan anak dan istri mereka bisa makan.
Jeritan Karyawan: “Kami Sudah Cukup Bersabar”
Sebut saja MA (42th,), salah satu perwakilan karyawan PT SLI, dengan nada bergetar menyampaikan keluh kesahnya kepada awak media. Ia berharap Bupati Maesyal Rasyid melihat persoalan ini tidak hanya dari kacamata regulasi kaku, tapi juga dari sisi kemanusiaan.
”Pak Bupati Maesyal Rasyid yang kami hormati, sembilan bulan kami bersabar, sembilan bulan kami berjuang menyambung hidup dengan serabutan. Ini bukan waktu yang singkat untuk perut yang lapar. PT SLI adalah satu-satunya dapur kami,” ujar MA saat ditemui di sekitar area pabrik, Rabu (4/2).
MA menambahkan bahwa para karyawan sangat setuju dengan perbaikan lingkungan, namun mereka memohon agar proses tersebut dilakukan sambil pabrik tetap beroperasi.
“Jelang Ramadhan ini, kami bingung harus mengadu ke mana lagi. Kami mohon Bapak Bupati segera membuka kembali pabrik kami. Kami siap mengawal perusahaan untuk melakukan cek kesehatan (MCU) bagi warga dan memperbaiki kebisingan. Tapi tolong, jangan biarkan dapur kami mati total. Anak istri kami butuh makan, Pak,” tegas MA
Solusi Berbasis Data Medis dan Lingkungan
Para karyawan menawarkan jalan tengah yang objektif agar tidak ada lagi benturan dengan warga sekitar:
Garansi Kesehatan: Perusahaan didorong melakukan MCU awal bagi warga sebagai rekam medis acuan. Jika dalam 6 bulan ditemukan keganjilan kesehatan akibat operasional, karyawan siap mendukung evaluasi total.
Audit Kebisingan: Meminta DLH melakukan pengukuran transparan. Jika di atas ambang batas, perusahaan wajib melakukan perbaikan teknis tanpa harus merumahkan karyawan lagi.
Menanti Kebijaksanaan “Bapak Rakyat”
Sebagai pemimpin yang dikenal dekat dengan masyarakat, keberpihakan Bupati Maesyal Rasyid kini sangat dinantikan. Para buruh berharap sang Bupati mampu memberikan diskresi atau kebijakan yang memungkinkan pabrik beroperasi kembali dengan pengawasan ketat.
”Pemerintah pasti akan buka jika tidak ada kontra. Kami mohon Pak Bupati memediasi kami dengan warga. Kami ingin bekerja kembali, kami ingin melihat asap pabrik mengepul lagi agar piring nasi kami terisi di hari raya nanti,” pungkasnya. (Red)








