ACEH //propamnewstv.id – Pemerintah melaporkan seluas 107.324 hektare sawah mengalami kerusakan setelah dihantam bahala banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Jumlah ini sekitar 10% dari total lahan sawah yang ada di tiga provinsi tersebut.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun atau setara anggaran satu setengah hari jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memulihkan seluruh kerusakan persawahan tersebut.
“Kami akan perbaiki secepatnya,” kata Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.
Bagi petani di Aceh, kecepatan itu menjadi pertaruhan atas nasib mereka. Musababnya, setiap musim tanam yang terlewat tanpa adanya sawah, berarti satu langkah lebih dekat pada masalah pangan.
Hawiyah, 80 tahun—akrab disapa Nek Ju—kehilangan rumah, sawah, dan kebun sekaligus.
Warga di Kampung Delung Sekinel, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah sejak muda sudah hidup bergantung dari sawah.
Masyarakat di sini punya tradisi menyimpan hasil panen padi di keben—lumbung padi tradisional masyarakat Gayo. Keben bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan simbol ketahanan pangan keluarga.
Dari keben, kebutuhan beras sehari-hari diambil. Dari sini juga, padi digunakan membayar traktor, melunasi utang, dan bertahan saat panen gagal.
“Biasanya untuk bayar utang sana sini. Traktor juga dibayar. Setengah dibayar di awal, setengah di akhir, dibayar nanti dengan padi itu,” lanjut Nek Ju.
Sekarang, keben itu kosong.
“Di sawah tidak ada apa-apa lagi, sudah habis menjadi pasir,” ujarnya.
Selama ini, anak-anaknya bergantian mengolah lahan miliknya. Namun kini, lahan sekitar satu hektar itu tak lagi ada.
Ia berharap adanya bantuan pemerintah, “maunya ya bantu uang, kalau tidak ya kerbau,” kata Nek Ju.
Ketiadaan lahan sawah yang menjadi gantungan hidup keluarganya, merupakan sebuah pilu tak terungkapkan. Ia sudah membayangkan bagaimana masa depan yang tak pasti sekaligus bayang-bayang masalah pangan.
“Hajab (menderita) jika tidak ada sawah. Di sini cuma itu usaha orang, bersawah, berkebun,” katanya.








