TASIKMALAYA, // PropamNewstv.id – Pasar Cikurubuk, jantung perdagangan tradisional di Kota Tasikmalaya, kini tengah ngos-ngosan menjaga denyut hidupnya. Lorong-lorong yang dulu padat oleh suara tawar-menawar kini lebih sering sunyi. Banyak pintu kios bergembok, sementara spanduk “dijual” dan “disewakan” berjajar seperti penanda kekalahan perlahan para pedagang.
Kondisi ini sejatinya bukan cerita baru. Namun, grafik keterpurukan pasar terus menukik. Data tahun 2024 mencatat sekitar 30 persen kios di Pasar Cikurubuk telah tutup. Dari total 2.770 kios, sekitar 800 unit tak lagi beroperasi. Fakta itu diakui Kepala UPTD Pasar Resik 1, Deri Herlisana.
“Keluhannya ya sepi. Sekitar 30 persen kios sudah menutup,” kata Deri saat ditemui, Juli 2024 lalu.
Namun dua tahun berselang, kabar dari pasar terbesar di Kota Tasikmalaya itu justru semakin muram. Pada 2026, Deri kembali menyampaikan perkembangan terbaru. Jumlah kios yang tutup melonjak drastis hingga sekitar 1.500 unit.
Artinya, lebih dari separuh kios di Pasar Cikurubuk kini tak lagi bernyawa.
Kondisi tersebut menandakan Cikurubuk bukan sekadar mengalami lesu musiman, melainkan tengah menghadapi krisis struktural. Di balik angka-angka itu, terdapat wajah-wajah pedagang yang bertahan sambil menahan napas panjang.
Salah satunya Budi (41), pedagang di Blok B2. Ia mengaku penurunan omzet sudah dirasakan sejak lama. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik, disusul maraknya belanja online yang kian tak terbendung.
“Mulainya terasa sejak pandemi, ditambah penjualan online. Dampaknya besar, jadi lesu,” ujarnya kepada Media Propamnewstv.
Menurut Budi, pedagang pasar tradisional kalah sejak dari hulu. Platform belanja online memungkinkan produsen atau penjual tangan pertama langsung bertemu konsumen. Harga pun jauh lebih murah. Sementara pedagang pasar, sebagai tangan kedua, harus membeli barang dari pemasok terlebih dahulu. Margin keuntungan menipis, sementara ongkos operasional tetap berjalan.
Selisih harga inilah yang membuat kios-kios pasar semakin ditinggalkan. Konsumen memilih yang praktis dan murah, meski tanpa aroma tawar-menawar khas pasar tradisional.
Sebagian pedagang mencoba bertahan dengan menekan keuntungan, sebagian lainnya memilih menutup kios dan menyerah pada keadaan. Lingkaran persoalan pun terbentuk. Semakin banyak kios tutup, pasar semakin sepi. Pasar semakin sepi, pembeli pun makin enggan datang.
Pasar Cikurubuk kini berada di persimpangan nasib. Masih menjadi sandaran hidup ribuan pedagang, namun tertinggal dalam adaptasi. Tanpa intervensi serius dan solusi yang berpihak, Cikurubuk terancam berubah fungsi dari pusat perdagangan menjadi monumen bisu perubahan zaman yang tak ramah bagi pedagang kecil.
Aziz Naga bandung








