Tangerang, // PropamNewstv.id – Suasana khidmat dan penuh rasa rindu menyelimuti kediamannya Desa Talagasari RT 008/02, Jumat, (17/1/ 2026).
Keluarga besar bersama tokoh masyarakat dan warga Desa Talagasari berkumpul untuk melaksanakan Haul ke-5 wafatnya Bapak Asnawi, mantan Kepala Desa Talagasari yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat humanis, bersahaja, religius dan dicintai rakyatnya.
Sembilan tahun tepatnya bulan Maret 2018 telah berlalu sejak kepergian almarhum yang meninggal dunia saat masih aktif menjabat di periode keduanya. Meski telah tiada, jejak perjalanan hidupnya—mulai dari seorang tenaga kesehatan hingga menjadi pemimpin desa—tetap memberikan warna dan kesan mendalam bagi perjalanan Desa Talagasari.
Dari Pelayanan Kesehatan ke Kursi Kepemimpinan
Almarhum Bapak Asnawi mengawali pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan (Mantri) di Puskesmas Cikupa. Jiwa melayani yang terbentuk di dunia kesehatan membawanya memberanikan diri terjun ke dunia politik desa melalui Pilkades 2007.
Kepercayaan masyarakat begitu besar sehingga beliau terpilih selama dua periode berturut-turut. 2007/2013 dan 2013/2018.
Namun, takdir berkata lain; beliau berpulang saat masa jabatannya menyisakan satu tahun, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh warga.
Pesan Cinta dari Keluarga
Ibu Dedeh Asnawi, istri tercinta almarhum, hadir mendampingi keluarga besar dalam acara Haul tersebut. Dengan nada bicara yang penuh haru, beliau menyampaikan betapa besarnya dedikasi almarhum terhadap masyarakat.
”Bagi Bapak, jabatan adalah amanah untuk menolong orang. Sembilan tahun berlalu, namun semangat pengabdian beliau tetap kami jaga dalam keluarga. Kami sangat berterima kasih kepada warga Talagasari yang hingga saat ini masih mengingat dan mendoakan kebaikan almarhum. Beliau selalu berpesan agar kita selalu rendah hati dan tidak pernah lelah membantu sesama,” ungkap Ibu Dedeh.
Pemimpin Tanpa Sekat di Mata Warga
Kesan serupa disampaikan oleh Ust. H. Kaling, salah satu tokoh masyarakat Desa Talagasari. Beliau mengenang almarhum sebagai pemimpin yang tidak pernah membangun jarak dengan rakyatnya.
”Pak Asnawi itu sosok yang sangat bersahaja. Beliau tidak pernah memposisikan dirinya sebagai atasan, tapi sebagai saudara bagi kami semua. Karena latar belakangnya dari kesehatan, beliau sangat peka terhadap kesulitan warga. Beliau adalah teladan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang kemanusiaan,” ujar Ust. H. Kaling.
Dedikasi dan Budaya Kerja di Kantor Desa
Melengkapi potret kepemimpinan almarhum, Didi Supriyadi, yang merupakan salah satu pegawai desa pada masa jabatan periode kedua (2013–2018), memberikan kesaksian mengenai cara kerja Bapak Asnawi di lingkungan birokrasi desa.
“Bekerja bersama Pak Asnawi, terutama di periode kedua, memberikan pelajaran berharga bagi kami para staf.
Beliau memimpin dengan cara mengayomi, bukan memerintah. Jika ada persoalan di desa, beliau selalu menghadapinya dengan kepala dingin, layaknya seorang ‘Mantri’ yang sedang mengobati pasiennya. Beliau selalu menekankan kepada kami: ‘Layani masyarakat seolah kita sedang merawat keluarga sendiri’. Budaya kerja kekeluargaan itulah yang beliau wariskan kepada kami di kantor desa,” kenang Didi.
Melalui peringatan Haul ke-5 ini, semangat “Sang Mantri” dalam membangun Desa Talagasari diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi pemimpin selanjutnya. Dedikasi dan kebersahajaan Almarhum Asnawi akan selalu menempati ruang istimewa di hati masyarakat Talagasari. (Red)








