Tanggapan Atas Kematian Badak Bercula Satu “Musofa” di Kawasan JRSCA Masyarakat Pandeglang Suarakan Keprihatinan dan Kearifan Alam Ujung Kulon

- Reporter

Jumat, 28 November 2025 - 04:33

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pandeglang // propamnewstv.id —Kabar meninggalnya seekor badak Jawa bernama Musofa di kawasan translokasi penangkaran Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) memantik reaksi dari berbagai kalangan, khususnya masyarakat Pandeglang dan para pemerhati lingkungan. Meski pihak Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) bersama para ilmuwan menyatakan bahwa kematian Mustofa disebabkan oleh penyakit bawaan, sebagian masyarakat tetap merasakan kegelisahan yang mendalam.

Salah satu aktivis Pandeglang, Panji Nugraha, menyampaikan tanggapan kritisnya atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kematian Musofa bukan sekadar kehilangan satu individu satwa langka, namun juga menciptakan ruang ketidakpercayaan terhadap program translokasi dan pengelolaan badak Jawa yang oleh masyarakat Pandeglang dianggap sebagai aset kearifan lokal dan spiritualitas alam Banten.

Kami memiliki sedikit rasa kurang percaya pada program pemerintah untuk badak yang kami anggap aset kearifan Pandeglang. Meski TNUK menyebut kematian Musofa akibat penyakit bawaan, bagi kami ada kekhawatiran bahwa kejadian ini bisa menimpa badak lainnya jika terus dipindahkan dari tempat asalnya,” ujar Panji.

Ia menilai bahwa masyarakat Pandeglang sejak dahulu memandang badak Jawa bukan hanya sebagai satwa langka, tetapi bagian dari penjaga alam yang memiliki hubungan keseimbangan dengan ekosistem Ujung Kulon. Karena itu, proses pemindahan yang dianggap “mengubah kehidupan alami” badak Jawa dinilai berpotensi mengganggu harmoni tersebut.

Kami justru merasa aneh dengan kejadian yang menimpa Mustofa. Kami tidak yakin kehidupan mereka akan lebih baik setelah dipindahkan. Kami percaya badak lebih aman di alamnya sendiri, sepanjang manusia tidak tamak dan mampu menjaga jarak yang bijak,” lanjutnya.

Panji menekankan bahwa nilai kearifan lokal yang diyakini masyarakat Pandeglang tidak hanya berbicara soal pelestarian fisik satwa, namun menyangkut nilai spiritual alam, yakni keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki tempat dan keseimbangan yang tidak boleh terganggu oleh modernisasi berlebihan.

Badak bercula satu ini punya nilai kealamian dan kespiritualan. Jika ada campur tangan manusia yang berlebihan, kami khawatir justru merusak kebaikan yang selama ini dijaga oleh alam itu sendiri,” tegasnya.

Tidak berhenti di sana, Panji juga mengungkapkan kekhawatiran yang lebih besar. Menurutnya, perubahan-perubahan di kawasan Ujung Kulon, baik melalui program konservasi maupun aktivitas manusia lainnya, berpotensi mengganggu “kearifan alam” yang sejak dahulu menjadi kekuatan utama Ujung Kulon sebagai benteng terakhir badak Jawa.

Kami takut dengan adanya perubahan atau pemindahan spesies, alam Ujung Kulon tidak lagi arif dan bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti yang terjadi di daerah lain. Ini warisan alam masyarakat Pandeglang dan Banten. Jangan sampai suatu hari nanti warisan ini tenggelam,” pungkasnya.

Panji mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, pengelola taman nasional, maupun masyarakat, untuk kembali menempatkan kearifan alam Ujung Kulon sebagai dasar pengambilan keputusan. Ia menegaskan bahwa pelestarian badak Jawa tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan ilmiah, tetapi juga perlu memahami keterikatan sejarah, budaya, dan keseimbangan alami yang telah terjalin selama ratusan tahun.

Dengan meninggalnya Musofa, masyarakat Pandeglang berharap evaluasi mendalam dilakukan agar tidak ada lagi kehilangan satwa yang sangat bernilai tersebut. Lebih dari itu, mereka menyerukan agar Ujung Kulon tetap dipertahankan sebagai ruang alami yang lestari tanpa perubahan-perubahan yang berpotensi menyingkirkan kearifan dan roh alam yang menjadi identitasnya.

Mari kita jaga bersama. Ini bukan hanya tentang badak, tetapi tentang warisan alam Ujung Kulon yang harus tetap hidup, arif, dan utuh untuk generasi Pandeglang dan Banten di masa depan.” pungkas (IRGI)

Berita Terkait

Patroli KRYD Polres Tabalong Sambangi SPBU dan Permukiman, Jaga Kamtibmas Tetap Kondusif
Pemadam Listrik Bergilir, YLK Intan Kalimantan Tegaskan Kerugian Konsumen Berhak Dapat Kompensasi 
Kodim 1002/HST pacu pembangunan empat jembatan meski cuaca tak menentu
SEDEKAH BUMI CIBOGO  “Nyuhun Buhun Ngawangun Lembur”  
Pemberian Gelar Adat Lampung, Ketum DPP PWDPI: Wajib Sesuai Aturan dan Kewenangan Adat, Jangan Dijadikan Sarana Politik
Polda Kalsel Gelar Car Free Day dan Pasar Murah, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat*
“Tutup Kapolres HST Cup 2026,AKBP Jupri,Jadikan Pengalaman Ini Motivasi Agar Semangatmu Tetap Menyala
Di Duga Oknum Polda Kalteng Telah Gelapkan 50 Unit Mobil Asal Kalimantan Selatan 

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 06:13

Patroli KRYD Polres Tabalong Sambangi SPBU dan Permukiman, Jaga Kamtibmas Tetap Kondusif

Senin, 29 Juni 2026 - 06:06

Pemadam Listrik Bergilir, YLK Intan Kalimantan Tegaskan Kerugian Konsumen Berhak Dapat Kompensasi 

Senin, 29 Juni 2026 - 05:57

Kodim 1002/HST pacu pembangunan empat jembatan meski cuaca tak menentu

Senin, 29 Juni 2026 - 05:47

SEDEKAH BUMI CIBOGO  “Nyuhun Buhun Ngawangun Lembur”  

Senin, 29 Juni 2026 - 05:38

Pemberian Gelar Adat Lampung, Ketum DPP PWDPI: Wajib Sesuai Aturan dan Kewenangan Adat, Jangan Dijadikan Sarana Politik

Senin, 29 Juni 2026 - 01:43

“Tutup Kapolres HST Cup 2026,AKBP Jupri,Jadikan Pengalaman Ini Motivasi Agar Semangatmu Tetap Menyala

Senin, 29 Juni 2026 - 01:28

Di Duga Oknum Polda Kalteng Telah Gelapkan 50 Unit Mobil Asal Kalimantan Selatan 

Senin, 29 Juni 2026 - 01:18

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Demak Dekatkan Layanan dan Kebersamaan dengan Warga

Berita Terbaru

Adat budaya

SEDEKAH BUMI CIBOGO  “Nyuhun Buhun Ngawangun Lembur”  

Senin, 29 Jun 2026 - 05:47

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x