KUASING RIAU/Propamnewstv.id โ Akibat tebing sungai sepanjang 200 meter amblas diterjang banjir besar, sebuah rumah milik Surah Soyo di Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, terpaksa dibongkar total secara gotong royong pada libur Lebaran Idulfitri kemarin. Langkah ini diambil karena kondisi bangunan sudah menggantung dan sangat rawan roboh ke dalam sungai.
โ
โBencana longsor yang dipicu oleh luapan debit air sungai menyebabkan kediaman Surah Soyo di Desa Koto Kombu kini tinggal kenangan. Menghadapi ancaman bangunan roboh ke sungai pasca-tebing sisi rumah amblas sepanjang 150-200 meter, warga dan pemerintah desa setempat berinisiatif melakukan pembongkaran total guna menyelamatkan aset material yang tersisa. Saat ini, keluarga korban sangat bergantung pada kepastian bantuan Rumah Layak Huni (RLH) dari Pemerintah Kabupaten Kuansing yang telah diajukan melalui jalur darurat.
โ
โPemerintah Desa Koto Kombu mengonfirmasi bahwa peninjauan lokasi telah dilakukan oleh pihak Kecamatan, Dinas PUPR, dan BPBD Kuansing sejak hari pertama kejadian. Namun, bantuan fisik belum dapat terealisasi seketika karena kendala teknis masa libur panjang.
โ”Pihak kecamatan dan Kadis PUPR sudah meninjau ke lokasi saat kejadian. Tim BPBD juga sudah melihat di hari pertama. Kami berharap setelah lebaran ini, proposal yang diajukan mendapat respons positif agar keluarga Pak Surah bisa kembali memiliki tempat tinggal,” ujar perwakilan perangkat desa Koto Kombu saat dikonfirmasi.
โHingga berita ini diturunkan, masyarakat setempat masih menunggu tindak lanjut administrasi dari pemerintah kabupaten untuk proses pembangunan kembali rumah korban yang terdampak bencana tersebut.
โ
โDi sisi lain, warga menyoroti bahwa bencana ini tidak murni disebabkan oleh faktor alam, melainkan adanya kerusakan ekosistem di wilayah hulu. ped (37), seorang warga setempat, mengungkapkan kekecewaannya terhadap alih fungsi hutan dan aktivitas ilegal yang memperparah dampak banjir.
โ”Banjir terjadi karena curah hujan tinggi di hulu, sehingga berdampak ke hilir. Kemudian juga karena berubahnya fungsi hutan menjadi kebun sawit oleh para mafia bermata sipit di bagian Desa Pangkalan Indaruang dan Tanjung Medang,” ungkap ped.
โSelain alih fungsi lahan, ia juga menunjuk aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sebagai biang keladi pendangkalan sungai. “Aktivitas PETI juga salah satu pemicu mudahnya banjir di Hulu Kuantan karena terjadi sedimentasi yang parah, sehingga sungai tidak lagi mampu menampung debit air,” pungkasnya.
cd/Red







